Kabardewata.com

Pariwisata

Berawal dari Konservasi, Desa Wisata Penglipuran Kini Terkenal dengan Angkul-angkulnya

Kategori Pariwisata, January 07, 2016, Dilihat sebanyak 949 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Kesederhanaan dalam kebersamaan. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri Desa Wisata Penglipuran bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Pertamanan, angkul-angkul atau pintu gerbang masing-masing pekarangan, sederhana dan seragam.

Selain itu, keramahtamahan warga dan sistem pemeliharaan kebersihan, menjadi daya tarik lain, desa yang terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Bali atau sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar.

Sistem pemeliharaan kebersihan ini disebut Penglipuran Berbunga, dan pada 1995 Desa Wisata Penglipuran mendapat penghargaan Kalpataru.

Bendesa Adat Penglipuran, I Wayan Supat mengatakan, sebelum menjadi desa wisata pada 1993, para orangtua pendahulu warga setempat berupaya melakukan konservasi.

Menurutnya, tujuan dari konservasi desa itu adalah bagaimana budaya adat para leluhur yang adi luhung bisa dilindungi, dan dilestarikan untuk kepentingan anak cucu ke depan.

"Jadi bukan untuk pariwisata pada awalnya. Tapi untuk kepentingan konservasi demi anak-anak kita, tahu tentang adat dan budaya leluhurnya. Konservasi itu dari segi budaya fisik maupun non fisiknya," ujarnya kepada Tribun Bali, belum lama ini.

Ternyata konservasi tersebut menarik minat Pemda untuk menjadikan Desa Adat Penglipuran menjadi Desa Wisata.

Pada 1990 Pemda menawarkan kepada warga Desa Penglipuran, dan baru pada 1993 desa ini ditetapkan menjadi Desa Wisata dengan Surat Keputusan (SK) Bupati No.115 Tanggal 29 April Tahun 1993.

Sapta pesona Desa Wisata Penglipuran yakni tata ruang desa penampilan piar desa, dengan konsep tri mandalanya. Ada utama mandala, madya mandala dan nista mandala.

Di desa yang dihuni 234 kepala keluarga ini juga terdapat tugu pahlawan, hutan bambu, Pura Luhur Penglipuran, yang menarik untuk dikunjungi.

Desa Adat Penglipuran menggunakan sistem perwakilan dengan jumlah 76 dewan desa.

Jumlah itu menggambarkan 76 angkul-angkul dari jejer barat sebanyak 38 dan jejer timur sebanyak 38 yang saling berhadapan.

“Angka kunjungan Desa Wisata Penglipuran terjadi kenaikan dari 2014 dibanding 2015. Rata-rata di 2014, kunjungan wisawatan mencapai 150 sampai 160 orang per hari. Sedangkan pada 2015 meningkat menjadi 170 sampai 200 orang wisatawan per hari,” kata Wayan Supat.

Tiket masuk bagi wisatawan dibedakan dewasa dan anak domestik dan mancanegara.

Domestik untuk dewasa dikenakan Rp 15 ribu, dan untuk anak-anak Rp 10 ribu.

Tiket masuk bagi wisatawan dibedakan dewasa dan anak domestik dan mancanegara.

Domestik untuk dewasa dikenakan Rp 15 ribu, dan untuk anak-anak Rp 10 ribu.

Sedangkan tiket dewasa mancanegara dikenakan Rp 30 ribu, dan anak-anak Rp 25 ribu.

Mengenang Kapten Anak Agung Anom Muditha

Tugu Pahlawan Penglipuran, terletak di sisi selatan Desa Wisata Penglipuran, dan sudah berdiri sejak 1947.

Monumen ini didirikan untuk memperingati perang revolusi di Bangli yang dipimpin Kapten Anak Agung Anom Muditha.

Dia menambahkan, warga Desa Penglipuran mengakui Kapten Anak Agung Anom Muditha sebagai pahlawan revolusi, walaupun belum mendapat pengakuan sebagai pahlawan nasional. (*)

Desa Wisata Penglipuran

 

Lokasi 30 kilometer dari Kota Denpasar dengan jarak tempuh sekitar 1 jam

Tiket masuk :

Dewasa Domestik Rp 15 ribu

Anak-anak Domestik Rp 10 ribu

Dewasa Mancanegara Rp 30 ribu

Anak-anak Mancanegara Rp 25 ribu

 


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image