Kabardewata.com

Sosial Budaya

Nyoman Astika, Transmigran Asal Bali Tewas Dipenggal di Kebun Cengkeh

Kategori Sosial Budaya, September 16, 2015, Dilihat sebanyak 577 kali, Post oleh Rusadi Nata


SINGARAJA - I Nyoman Astika (70), transmigran asal Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, tewas seusai diserang lima orang tak dikenal di kebunnya di pegunungan Baturiti, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Minggu (13/9/2015) lalu.

Keluarga besarnya di Buleleng pun merasa sedih atas tewasnya Astika. Orang tak dikenal itu diduga kelompok teroris pimpinan Santoso. Namun Kapolres Parimo, AKBP Novia Jaya, mengaku belum bisa memastikan siapa pelakunya.

Pihaknya sementara masih melakukan penyelidikan serta mendalami motif dari pelaku. Selain itu, pasukan juga sudah dikerahkan untuk memburu para pelaku.

Selain Astika, juga tewas dibunuh dengan cara yang sama (ditemukan tanpa kepala) adalah Simon Taliko.

Sementara Kapolda Sulteng, Brigjen Idham Azis, saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2015), membenarkan pembunuhan di Parimo dilakukan kelompok Santoso.

“Menurut saksi (istri korban), ada lima orang bersenjata. Istri korban saat itu nggak keluar dari pondok, tapi suaminya ditarik dan dipenggal lehernya,” kata Azis.

Menantu Astika, I Nyoman Adiana, yang bekerja sebagai pegawai di Kantor Perbekel Gitgit-Buleleng, menuturkan, ia mendapatkan kabar tewasnya mertuanya itu dari keluarganya di Sulawesi Tengahpada Senin (14/9/2015) melalui telepon seluler. Dari penuturan keluarganya itu, Astika ditemukan tewas sudah tanpa kepala.

Dikatakannya, ketika itu Astika bersama istrinya, Ni Made Kantri (65) sedang sembahyang tilem di pondoknya yang berada di kebun cengkeh, cokelat dan duriannya di pegunungan yang berjarak 10 kilometer (km) dari perkampungan transmigran Bali di Desa Gitgit Sari, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai.

Sekitar pukul 13.00 Wita, mereka dikejutkan dengan kedatangan lima orang tak dikenal berpenutup kepala.

Mereka membawa senjata laras panjang, pistol dan kapak. Dua orang dari mereka menyeret Kantri menjauh dari pondoknya. Sedangkan tiga orang lain yang bersenjata mendatangi Astika. Selang beberapa menit kemudian, tiga orang yang sebelumnya menemui Astika mencuci tangan dan kapak yang telah berlumuran darah di loyang yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan Kantri.

Sehabis mencuci tangan, seorang di antaranya memperingatkan Kantri agar tidak turun ke rumahnya dan melaporkannya ke aparat.

Mereka pun lantas meninggalkan nenek ini bersama mayat Astika yang sudah dalam kondisi tanpa kepala. Pukul 20.00 Wita, Kantri memberanikan diri turun ke rumahnya yang ditempuh selama 12 jam dengan berjalan kaki.

Sesampainya di rumah, ia menceritakan ke tetangga-tetangganya dan aparat kepolisan dan TNI. Keesokan harinya, mereka bersama-sama naik ke kebun dan menemukan mayat Astika masih tergeletak di bawah pohon durian.

Mayat Astika lantas dibawa ke RSUD Parigi Moutong dan pada Selasa (15/9/2015) dikuburkan. Sampai saat ini kepala Astika masih belum dapat ditemukan.

“Rencana hari ini (Selasa) akan dikubur di Sulawesi sana. Tapi tidak diupakarai secara Hindu karena kepalanya masih belum ditemukan. Hanya dikubur biasa saja. Nanti kalau kepalanya sudah ditemukan baru diupakarai,” katanya. (*)


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image