Kabardewata.com

Sosial Budaya

Peninggalan Tantrayana di Desa BugBug

Kategori Sosial Budaya, March 19, 2014, Dilihat sebanyak 504 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Di Desa Bugbug- Karangasem adalah desa dikategorikan Desa Spiritual dimana praktek-praktek keagamaan dalam menjalankan bhakti kepada Tuhan tergolong unik dan frekuensinya cukup banyak. Hampir setiap bulan ( purnama / tilem ) terdapat acara yang diselenggarakan oleh Desa Pakraman Bugbug untuk menjalankan kebaktian terhadap Hyang Pencipta. Acara keagamaan itu lazim disebut “Usaba”. Seperi : Usaba Manggung, Usaba Kelod, Usaba Bukit Gundul, Usaba Gumang, Usaba Pengalapan, Usaba Pasujan, Usaba Kaja,dan lain-sebagainya.

Namun dalam ritual itu terdapat praktek yang bernuansa mistis. Pada Usaba yang boleh dikatakan besar seperti usaba manggung dan usaba gumang kemistisan dari usaba tersebut bisa dilihat dengan adannya “Daretan”. Banyak dari sosok daretan bila diteliti merupakan pengaruh tantrayana, seperti roh asing ( roh selain dirinya ) yang memasuki raga daretan itu, ada lagi bersumber dari ajaran Tantar yang disebut Panca Ma, diantaranya alkohol ( tuak ), daging ( anak ayam / pitik ) yang dimakan. Fenomena ini jelas Tantrayana masih dijadikan sebuah tatanan prilaku menghayati kebesarn Tuhan di Desa Bugbug.

Yang jarang diperhatikan oleh para praktisi tantra adalah Kuburan desa Pakraman bugbug terdapat areal pemujaan yang disebut “Bale agung Sema”. Dalam ajaran tantra salah satunya adalah bahwa kuburan adalah Tempat Suci. Pada areal yang mirip lapangan kecil para penganut tantra menjalankan kebaktian terhadap Tuhan dengan caranya sendiri. Hal ini mengacu pada sejarah dimana Raja Kerta Negara menjalankan upacara di kuburan untuk mencapai Moksa. Hingga pada saat ini entah ada atau tidak penganut tantrayana yang menjalankan kebaktiannya di Kuburan sebagai pengejewantahan ajaran Tantra.

Tantra merupakan mutiara Weda yang sangat Indah, bila dicara makna dalam makna. Karena bersumber dari percakapan antara Siva dan Parwati. Namun sayang sekali mutiara Weda itu ditafsirka mentah bila pengetahuan seseorang masih rendah. Akibatnya Tanta disebut Aliran Sesat. Maka dari itu “ MELAJAH MALU, MARA NGOMONG”.
 


Sumber: Kabardewata.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image