Kabardewata.com

Sosial Budaya

Pengelukatan di Pura Telaga Waja

Kategori Sosial Budaya, September 15, 2015, Dilihat sebanyak 1489 kali, Post oleh Rusadi Nata


LOKASI PURA

Pura Telaga Waja terletak di Banjar Kapitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Untuk menuju lokasi pura bisa dicapai melalui dua jalan.

Kalau dari Ubud, anda cari dulu perempatan yang ada patung arjuna di Peliatan. Pura Telaga Waja terletak sekitar 4 km di utara dari titik ini. Dari patung arjuna tersebut masuklah ke Jalan Andong di Ubud. Darisana terus ke utara melewati Petulu dan carilah gedung balai banjar dari Banjar Gentong. Dari gedung balai banjar tersebut, terus ke utara sekitar 50 meter. Ada pertigaan dan ambil belok kanan atau ke timur, yang ada plang penujuk arah ke Pura Griya Sakti Manuaba. Dari pertigaan tersebut sudah dekat, sekitar 1 km lagi. Kalau dari arah Ubud, maka Banjar Kapitu menjadi banjar pertama saat melintasi Desa Kendran.

Kalau dari Tampaksiring, anda cari dari dulu perempatan Tampaksiring [yang kalau ke timur ke Pura Tirta Empul, ke utara ke Istana Tampaksiring, ke selatan ke Bedulu-Gianyar dan ke barat ke Tegalalang]. Anda ambil jalan ke Tegalalang itu. Terus saja sampai mentok pertigaan. Kalau belok kanan [ke utara] itu ke Desa Sebatu dan kalau belok kiri [ke selatan] itu ke Desa Kendran. Kita ambil jalan yang ke arah Desa Kendran. Kalau dari arah Tampaksiring, maka Banjar Kapitu menjadi banjar terakhir saat melintasi Desa Kendran.

Parkir kendaraan anda di dekat gedung balai banjar dari Banjar Kapitu. Dari sana perjalanan kita lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 250 meter melewati perkampungan, sawah, tegalan, jembatan kecil dan hutan desa. Kita akan melewati ratusan anak tangga menurun. Sehingga memerlukan sedikit stamina ekstra disini, terutama disaat nanti balik pulang. Tapi dengan niat tulus dan tujuan baik, maka kita akan dapat melewatinya tanpa keluhan dan halangan.

 

SEJARAH PURA

Pura Telaga Waja merupakan sebuah pathirtan yang sangat kuno dan sakral. Menurut keterangan dari Dinas Purbakala, Pura Telaga Waja sudah berumur 1.000 tahun. Dibangun di abad ke-10 Masehi sebagai pusat pertapaan suci dari para bhiksu Buddha Kasogatan.

Nama asli jaman kuno dari Pura Telaga Waja adalah Talaga Dwaja. Ini diketahui dari naskah klasik Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-13 Masehi. Tertulis bahwa di Pulau Bali terdapat sebuah pusat pertapaan Buddha Kasogatan yang penting yang bernama Talaga Dwaja. Cap atau segel tandanya adalah sebuah simbol berbentuk mirip palang pintu rumah kayu jaman kuno. Kalau kita berkunjung ke Pura Telaga Waja kita masih dapat melihat pada salah satu ceruk adanya sebuah relief segel dengan simbol berbentuk mirip palang pintu tersebut. Darisini kita bisa mengetahui betapa pentingnya posisi Pura Telaga Waja di jaman kuno dulu, bahkan sampai dimuat di dalam naskah klasik Nagarakretagama yang ditulis di Pulau Jawa.

Relief cap atau segel berbentuk mirip palang pintu


Di dalam lontar Dharma Yoga Samadhi terdapat sebuah petunjuk untuk melakukan mandi melukat sebanyak 7 kali kesempatan di pathirtan Telaga Waja ini. Tujuannya untuk membersihkan segala mala [kekotoran diri] dan membuka lebar jalan pencerahan.Selain Nagarakretagama, juga terdapat naskah-naskah tua lainnya yang memuat tentang Pura Telaga Waja. Di dalam Prasasti Bulian disebutkan bahwa bila sering mandi melukat di pathirtan Telaga Waja yang berumur sekitar 1000 tahun ini, akan berguna untuk kesembuhan badan, kesembuhan pikiran dan mendapat kesejahteraan.


Jadi Pura Telaga Waja adalah sebuah parahyangan suci yang dibangun di abad ke-10 Masehi [sudah berumur 1.000 tahun], nama aslinya adalah Talaga Dwaja dan selama ratusan tahun merupakan pusat pertapaan suci yang penting dari para bhiksu Buddha Kasogatan.

DRESTA PURA

Di Pura Telaga Waja terdapat beberapa dresta yang tentunya wajib untuk kita ikuti dan tidak kita langgar. Dresta-dresta tersebut adalah sebagai berikut : 


1. Dilarang keras mandi atau melukat di kolam suci dan pancoran di bagian atas. 

Dresta niskala ini disebabkan karena kolam suci dan pancoran di bagian atas merupakan genah melukat khusus dari para Ista Dewata, para Ida Btara-Btari, serta para Widyadara-Widyadari. Selain itu di kolam suci bagian atas ini merupakan tempat dari penjaga-penjaga niskala Pura Telaga Waja seperti Be Julit [ikan belut] dan Naga niskala. Sehingga sangatlah disakralkan dan kita sebagai manusia tidak diperbolehkan mandi atau melukat di kolam suci dan pancoran di bagian atas ini. 

2. Kalau hendak mandi atau melukat, tempatnya adalah di pancoran 11 [sebelas] di bagian bawah. Disini mandi atau melukat dilarang keras mengenakan busana sehelai benangpun. Mandi atau melukat wajib telanjang bulat.  

Adanya dresta niskala ini adalah sebagai hukum niskala penjaga kesakralan Pura Telaga Waja ini, sekaligus keharusan sebagai sebuah proses seleksi niskala bagi pemedek yang datang tangkil. Siapapun yang hendak mandi atau melukat di parahyangan suci yang sakral ini harus sanggup menempuh ujian spiritual ini, yaitu siap dengan keikhlasan dan kepolosan yang total untuk mandi atau melukat bertelanjang bulat.

Ini tidak saja merupakan sebuah ujian spiritual, tapi sesungguhnya merupakan sebuah gemblengan spiritual tingkat tinggi. Untuk dapat melukat di parahyangan suci ini kita harus memiliki keikhlasan total, kembali ke titik nol [kosong] yang polos tidak terkondisi sebagaimana saat kita dilahirkan. Karena esensi dasar semua mahluk adalah kesadaran Atma, tapi avidya [kebodohan, ketidaktahuan] membuat semua mahluk mengidentikkan dirinya dengan hal-hal tidak kekal seperti tubuh, pikiran dan perasaan. Tujuan dresta sakral iniadalah untuk melatih pikiran-perasaan kita agar polos apa adanya. Kita sedang digembleng untuk memiliki keikhlasan total meninggalkan tubuh, pikiran dan perasaan, melatih diri mencapai keadaan tanpa ego [nirahamkara]. Sepolos pikiran anak-anak. Dari pikiran polos anak-anak inilah kemudian dapat lahir keheningan dan belas kasih yang sangat menerangi kesadaran Atma. Hanya mereka yang bersedia menggembleng diri seperti ini yang diijinkan untuk melukat di parahyangan suci sakral ini, kalau tidak sanggup maka tidak akan diijinkan.

Adanya dresta niskala ini harus kita pahami maknanya sebagai sebuah ujian spiritual dan gemblengan spiritual tingkat tinggi. 

3. Upacara apapun di Pura Telaga Waja pantang dipuput oleh seorang sulinggih. 

4. Tidak boleh naik ke areal sakral di bagian atas yang merupakan areal palinggih dan kolam suci, kecuali atas se-ijin atau petunjuk jro mangku sebagai jan banggul pura. 

Masyarakat setempat sangat menekankan semua dresta ini. Mereka dengan terbuka mengijinkan siapa saja untuk tangkil ke pura, tapi dengan sangat menekankan agar semua dresta ini tidak dilanggar. 

Menurut cerita para tetua masyarakat sekitar pura, kalau dresta-dresta Pura Telaga Waja ini dilanggar maka akan mengakibatkan beberapa kemungkinan sengkala [musibah]. Kemungkinan pertama adalah masyarakat di sekitar pura yang akan mengalami sengkala seperti wabah penyakit, kematian susul-menyusul, ada bunuh diri atau musibah lainnya. Kemungkinan kedua adalah Jro Mangku pura yang akan mengalami sengkala dalam kehidupannya. Kemungkinan ketiga adalah si oknum pelanggar dresta sendiri yang akan mengalami sengkala.

Tidak boleh naik ke pelataran sakral diatas tanpa seijin Jro Mangku
 

Kalau kita datang ke sebuah pura tentunya semua dresta pura tersebut wajib untuk kita ikuti dan tidak kita langgar. Kalau kita melanggar dresta pura hal itu merupakan sebuah sikap angkuh tanpa rasa hormat terhadap kekuatan niskala pura tersebut. Serta sebuah sikap egois mementingkan diri sendiri tanpa rasa peduli terhadap keselamatan krama pengempon yang bertanggung-jawab terhadap keberlangsungan pura tersebut.

Sehebat apapun tingkat spiritual kita, kalau datang ke sebuah pura hendaknya berusaha menyatu dengan kekuatan suci yang sakral pura tersebut dengan cara tidak melanggar dresta. Terlebih lagi jangan datang seperti "maling" yang mengobrak-abrik dresta sebuah pura, dengan membawa sikap angkuh dan mementingkan diri sendiri. Sudah tentu itu adalah sebuah sikap yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dharma, yang akan membuat kita mendapat karma buruk. Kalau kita tidak sanggup untuk mengikuti dan menghormati dresta sebuah pura, tentu lebih baik kita tidak datang saja kesana.

Selain itu tentunya juga berlaku tata-aturan ke pura yang umum berlaku dimana-mana, yaitu datang dan memasuki areal pura wajib memakai pakaian adat Bali / pakaian sembahyang Hindu. Serta dilarang masuk ke pura dalam keadaan cuntaka, seperti sedang ada keluarga dekat yang meninggal dunia dan wanita yang sedang haid  [datang bulan].

MANDALA PURA

Dari gedung balai banjar dari Banjar Kapitu, kita berjalan kaki ke barat menyusuri jalan tanah melewati perumahan penduduk, areal persawahan dan kemudian menuruni puluhan anak tangga yang landai melewati tegalan penduduk.

Di ujung tangga kita akan sampai di sebuah jembatan. Di bawah jembatan ini melalui celah yang sangat sempit dan dalam, mengalir Sungai Kenderan.

Jembatan ini merupakan batas wilayah secara niskala dari rencang-rencang pura, sehingga jangan lupa haturkanlah canang dan rarapan di jembatan ini.

Sekitar 2 meter berjalan melewati jembatan, di sebelah kanan terdapat palinggih penjaga niskala Pura Telaga Waja berupa turus lumbung. Jangan lupa berhenti sejenak untuk menghaturkan canang dan rarapan disini.

Kemudian lanjutkan perjalanan melewati jalan datar sekitar 10 meter dan kita akan bertemu tangga bercabang. Tangga kecil ke kanan merupakan jalan menuju pura bagian atas dari Pura Telaga Waja. Pura ini lebih muda usianya dari Pura Telaga Waja yang kuno. Sedangkan tangga menurun curam ke bawah merupakan jalan menuju Pura Telaga Waja dari jaman kuno.

Anda boleh terlebih dahulu sembahyang matur piuning di Pura Telaga Waja bagian atas ini, baru kemudian turun ke bawah menuju Pura Telaga Waja yang merupakan pusat pertapaan pada jaman kuno abad ke-10 Masehi.

Sampai di ujung tangga menurun curam ke bawah, kita akan sampai di pelataran pertama pusat pertapaan kuno Talaga Dwaja yang disebut-sebut di dalam naskah klasik Nagarakretagama.

Luas pelataran pertama ini adalah 9,5 x 8,5 meter. Di pelataran ini sesungguhnya terdapat 4 buah ceruk pertapaan, tapi hanya 2 yang masih utuh. Yang masih utuh yaitu 1 ceruk di bagian utara dan 1 ceruk di bagian timur. Sedangkan 2 ceruk pertapaan yang sudah hancur berada di bagian selatan pelataran ini.

Di sebelah barat atau sisi kanan ceruk yang hancur ini terdapat relief cap atau segel simbol pusat pertapaan Talaga Dwaja yang bentuknya mirip palang pintu rumah jaman kuno.

Menuruni beberapa anak tangga dari pelataran pertama ini kita akan sampai di pelataran kedua yang letaknya lebih rendah. Di pelataran kedua inilah terdapat genah melukat dari Pura Telaga Waja dengan 11 pancoran. Disini adalah tempat bagi para pemedek untuk bersama-sama melakukan persembahyangan, meditasi dan melukat.

Di sebelah barat cukup jauh dibawah dari pelataran ini dengan dibatasi tembok, terlihat aliran dari Sungai Kungkang. Jadi sesungguhnya lokasi Pura Telaga Waja ini diapit oleh dua buah sungai, yaitu Sungai Kenderan dan Sungai Kungkang. Ratusan meter di selatan Pura Telaga Waja kedua sungai ini menyatu menjadi campuhan.

Sampai di pelataran kedua ini haturkanlah pejati atau canang. Tapi ingat dresta di pura ini kita tidak boleh naik ke kolam suci diatas tanpa seijin jro mangku sebagai jan banggul pura. Jadi kalau tidak mendak jro mangku, kita cukup haturkan pejati atau canang pada bataran kecil dari batu bata di ujung atas tangga naik ke pelataran ketiga.

Di pelataran ketiga yang terletak lebih tinggi dari pelataran kedua, merupakan mandala pura yang sangat disakralkan. Tidak boleh sembarangan naik ke pelataran ketiga, ini tanpa seijin dari jro mangku sebagai jan banggul pura.

Pada pelataran ketiga ini terdapat dua buah kolam suci.

Kolam suci pertama yang berukuran 7,4 x 4,2 meter terletak di teras utara yang lebih tinggi dari teras selatan.  Kolam suci ini dikelilingi oleh 3 buah ceruk pertapaan, yaitu 1 ceruk di bagian utara dan 2 ceruk di bagian barat kolam suci. Sebuah arca ditempatkan di bagian selatan kolam sebagai pancoran yang mengalirkan air suci.

Ini berarti secara total di keseluruhan Pura Telaga Waja terdapat 7 ceruk pertapaan. Dimana ceruk-ceruk ini pada jaman kuno dulu digunakan sebagai tempat meditasi.

Kolam suci kedua berukuran 8 x 6 meter terletak di teras selatan yang lebih rendah dari teras utara. Terdapat 11 pancoran di kolam suci yang sangat sakral ini. Sesuai dengan dresta pura, dilarang untuk mandi atau melukat di kolam suci yang sangat sakral ini. Di kolam suci ini terdapat duwe dari Pura Telaga Waja, yaitu berupa be julit [belut] besar. Duwe ini tidak sembarangan muncul, hanya muncul sebagai cihna [pertanda] ketika sebuah upacara atau puja berjalan dengan baik dan mendapat pemberkatan dari Ida Btara penguasa niskala wilayah dari lokasi Pura Telaga Waja. 

Di bagian timur dari teras selatan ini terdapat palinggih Ida Btara penguasa niskala wilayah dari lokasi Pura Telaga Waja. Di belakang palinggih ini terpahat pada tembok tebing pahatan candi yang sayang bentuknya sudah tidak utuh lagi dan tidak jelas.

SAKRALNYA AIR SUCI PATHIRTAN TEMPAT MOKSHA PARA PERTAPA

Secara niskala Pura Telaga Waja adalah sebuah pura yang sangat kaya. Dalam arti di parahyangan suci ini, dimensi alam-alam suci niskala sangat lengkap. Mulai dari alam terendah alam para widyadara-widyadari, kemudian terus naik ke luhur terdapat berbagai tingkatan dimensi alam-alam suci para Dewa-Dewi dan Boddhisattwa, sampai dengan mencapai alam kamokshan.

Selain dimensi alam-alam suci niskala yang sangat lengkap, tentunya juga terdapat mahluk-mahluk alam bawah [rencang-rencang Ida Btara] yang mencari naungan perlindungan di parahyangan suci ini. Ini tidak lepas dari ajaran Tantra yang merupakan intisari dari ajaran Hindu Bali, bahwa tempat suci sesungguhnya bukanlah hanya yang suci-suci saja ada disana, melainkan semuanya ada disana. Sebab beliau yang mahasuci yang tidak terpikirkan [Sanghyang Acintya, Tuhan] adalah keseluruhan Bhur, Bwah, Swah.

Pura Telaga Waja adalah parahyangan suci yang sangat mautama bagi praktisi spiritual manapun. Sangat mudah menghadirkan kehadiran para Ista Dewata dan Boddhisattwa serta karunia suci Beliau. Ketika melakukan meditasi penglihatan cahaya suci dan penglihatan lainnya amat sangat memukau. Bagi yang mata bathinnya sudah terbuka dan dapat mengakses alam-alam suci dimensi tinggi, akan dapat melihat kehadiran ratusan pertapa suci yang mengalami moksha di Pura Telaga Waja pada jaman kuno dulu.

Di Pura Telaga Waja kita lakukan sembahyang, puja atau meditasi terlebih dahulu. Tujuannya untuk mengundang [nedunang] para Ista Dewata dan Boddhisattwa alam suci agar kita memperoleh restu dan karunia Beliau. Setelah itu barulah kita menerima [nunas] karunia Beliau dengan cara melukat.
 

Pura Telaga Waja adalah tempat melukat terbaik dari ratusan tempat melukat di seluruh Bali. Sebabnya adalah adanya faktor-faktor yang membuat Pura Telaga Waja sangat baik sebagai genah melukat, yaitu :

1. Titik lokasi dimana Pura Telaga Waja berdiri secara alami memiliki kekuatan energi sucialam semesta yang khusus. Hal ini tidak mengherankan mengingat para pertapa jaman dahulu sangat memilih lokasi pertapaan mereka. Hanya di tempat yang terbaik secara spiritual, dengan tujuan agar jalan moksha yang mereka tempuh menjadi lancar.

2. Mata air yang memancur keluar di Pura Telaga Waja energinya bagus sekali, karena secara alami membawa kekuatan penyembuhan ibu pertiwi yang kuat.

3. Pura Telaga Waja adalah sebuah parahyangan yang telah berumur sangat tua, berumursekitar 1.000 tahun. Dan selama jangka waktu 1.000 tahun tersebut Pura Telaga Waja terus menerus diselenggarakan upacara tanpa putus. Ini menimbulkan akumulasi energi suci yang besar.

4. Di Pura Telaga Waja pada jaman dahulu ada ratusan pertapa yang mengalami moksha. Energi mahasuci dari terjadinya moksha para pertapa ini terus tetap berada di parahyangan suci ini.

5. Bagi yang mata bathinnya sudah mampu mengakses alam-alam suci, akan dapat mengetahui betapa ramainya Pura Telaga Waja dengan kehadiran para Dewa-Dewi dan Boddhisattwa dari berbagai tingkatan alam suci. Ini sangat mengagumkan dan menggetarkan. Kehadiran demikian banyak Dewa-Dewi dan Boddhisattwa tidak saja memberi getaran suci yang sangat kuat, tapi sekaligus juga menjadikan ada berlimpah karunia disini.

Semua faktor-faktor inilah yang membuat mata air suci di Pura Telaga Waja kekuatan sucinyadalam air menjadi berlipat-lipat. Sehingga menjadi tempat melukat terbaik.

Salah satu dresta di Pura Telaga Waja bahwa mandi atau melukat di pancoran disana tidak boleh memakai busana sehelai benangpun atau harus telanjang bulat. Selain sebagai ujian spiritual dan gemblengan spiritual tingkat tinggi, sebab lainnya adalah karena secara niskala air yang keluar dari ke-11 pancoran di pelataran bawah tanpa ritual apapun sudah terberkati berupa tirtha suci. Itu sebabnya mandi atau melukat tidak boleh memakai busana, karena air yang keluar dari pancoran sudah dengan sendirinya berupa tirtha suci. Kita tidak boleh menistai kesucian tirtha suci tersebut dengan pakaian atau busana yang kita pakai.

Pura Telaga Waja sangat cocok sebagai tempat melukat bagi para praktisi spiritual yang ingin mendapat kemajuan spiritual secara cepat, serta orang biasa yang ingin mendapatkan ketenangan pikiran, kemajuan spiritual, penghapusan karma buruk dan sembuh dari sakit. Dimana tirtha mahasuci di Pura Telaga waja ini memiliki kekuatan dan karunia pemurnian diri, karunia pelimpahan energi suci, karunia penghapusan karma buruk, karunia kesiddhian, karunia pembukaan mata bathin dan karunia penyembuhan dari sakit. Selain itu masih banyak sekali terdapat karunia-karunia lainnya, asalkan kita tulus dan ikhlas. Setiap pancoran memiliki energi pemberkatan dan karunia-nya masing-masing. Sehingga kalau akan melukat lakukanlah di semua pancoran, mulai dari pancoran paling utara dan berakhir di selatan.

Pura Telaga Waja umumnya sangat sepi dan jarang didatangi orang. Masyarakat sekitar pura juga sangat jarang kesini. Hanya pada hari rahinan Purnama saja biasanya ada beberapa penangkilan [itupun sangat sedikit] yang sebagian besar adalah para praktisi spiritual. Ini disebabkan karena kesakralan Pura Telaga Waja sendiri, tidak sembarangan orang dapat memiliki karunia untuk berjodoh dengan tempat mahasuci ini. Perlu akumulasi karma baik yang banyak.

Menurut Jro Mangku pura, orang-orang yang datang tangkil ke Pura Telaga Waja kebanyakan karena mendapatkan petunjuk niskala. Ada yang mendapatkan petunjuk dalam meditasi dan juga ada yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi. Sebagian datang untuk mendapatkan karunia berbagai petunjuk untuk kemajuan spiritualnya, sebagian datang untuk mendapatkan karunia pemurnian dan pengikisan karma buruk, sebagian datang untuk mendapatkan karunia ajaran-ajaran spiritual kuno yang rahasia dan sebagian lainnya datang karena sakit yang lama tidak kunjung sembuh lalu memperoleh kesembuhan setelah melukat disini. Mereka kebanyakan datang dari jauh, dari luar Kabupaten Gianyar. Bahkan pernah ada rombongan Jro Mangku dan Balian dari Nusa Penida yang tangkil ke Pura Telaga Waja karena mendapatkan petunjuk niskala.

Masih menurut Jro Mangku pura, selain sebagai tempat menyucikan diri Pura Telaga Waja juga dikenal sebagai parahyangan suci yang memberi berbagai karunia Ista Dewata. Salah satunya adalah memberi karunia keturunan bagi pasangan suami-istri yang tidak bisa memiliki keturunan. Dengan cara kedua pasangan tangkil ke Pura Telaga Waja selama 7 rahina Purnama berturut-turut, untuk sembahyang mohon keturunan kepada Ista Dewata dan melakukan pembersihan dengan cara melukat di pancoran 11 di pelataran bawah. Sudah banyak pemedek dari berbagai tempat yang membuktikannya. 

Selain itu ada karunia Ista Dewata untuk nedunang [menurunkan] hujan dan memperoleh karunia panen yang berlimpah bagi petani. Ini sudah puluhan tahun dibuktikan oleh krama Subak Batuan yang ada di Kecamatan Sukawati. Padahal letak wilayahnya lumayan jauh dari Pura Telaga Waja. Bila sawahnya kekeringan karena lama tidak turun hujan, maka krama Subak Batuan akan tangkil ke Pura Telaga Waja dan tidak perlu waktu lama hujanpun akan turun di wilayah mereka.


Sumber: puratelagawaja

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image