Kabardewata.com

Sosial Budaya

Tegalan Jadi Warung Patok di Sibang Dijaga Preman, Petani Takut?

Kategori Sosial Budaya, September 21, 2015, Dilihat sebanyak 338 kali, Post oleh Rusadi Nata


MANGUPURA - Warga Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, ketakutan ketika menyinggung keberadaan warung patok yang menyediakan praktek seks di kawasan Blumbungan dan Tanah Ayu, Desa Sibang Gede, Abiansemal, Badung, Bali.

Hal tersebut disebabkan tempat ini dijaga preman. Kawasan ini merupakan tegalan para petani yang beberapa bidang telah beralih fungsi menjadi warung patok penyedia layanan seks.

Warga Banjar Pekandelan, Desa Sibang Gede, DN (30), Minggu (20/9/2015), mengatakan, tidak sedikit dan tak jarang warga Sibang Gede yang lewat di tegalan Tanah Ayu, pulang dengan kondisi babak belur karena digebuki oknum preman.

Bahkan, para petani pun enggan bercocok tanam di tegalan karena tidak nyaman oleh keberadaan cewek seksi dan preman-preman arogan yang kerap mengganggu.

Karena itulah, setiap tegalan warga hanya ditumbuhi tanaman liar.

"Kalau sudah masuk kawasan itu, rasanya beda sekali. Pokoknya takut," ujar DN.

Pihak Desa Sibang Gede pun, kata DN, sudah menyerah dan membiarkan warung patok itu begitu saja.

Mereka hanya memungut administrasi keberadaan warung, per bulan  Rp 200 ribu untuk setiap warung.

Tagihan dilakukan bergantian oleh 12 banjar dinas di Desa Sibang Gede.

Hasil pungutan tidak semua masuk khas banjar.

Beberapa di antaranya diberikan kepada pecalang dan prajuru adat yang berani menagih uang ke kawasan ‘angker' itu.

"Mustahil dibubarkan karena dijaga preman. Yang bisa dilakukan hanya menyamakan statusnya seperti warung biasa. Setiap bulan bayar Rp 200 ribu per warung. Itu supaya kami tidak rugi saja," ujar seorang kelian dinas yang tak mau disebutkan namanya.

Perbekel Sibang Gede, Wayan Darmika, tidak bisa ditemui, saat ditelepon pun tidak diangkat.

Namun, berdasarkan keterangan istrinya, upaya penertiban warung patok di kawasan itu sangatlah sulit.

Satpol PP Badung yang digandeng untuk menertibkan pun tidak membuat pemiliknya takut.

"Sekarang hanya menugaskan hansip untuk memantau situasi. Untuk membubarkan rasanya sangat sulit," ujarnya. (*)


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image