Kabardewata.com

Sosial Budaya

Wanita Bali Tempo Dulu “Toples” untuk Menunjukan Kejujuran

Kategori Sosial Budaya, January 21, 2016, Dilihat sebanyak 7759 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Ada fenomena menarik ketika wanita-wanita Bali pada tahun 1929 yang silam tidak menggunakan menutup badan terutama yang berada di bagian dada dengan lebih suka memperlihatkan miliknya yang paling terlarang atau istilah tren saat ini yakni “toples”.

Fenomena “toples” wanita Bali tahun 1929an bukanlah sebagai tindakan kecerobohan, namun tindakan wanita Bali tempo dulu itu memiliki tujuan untuk memaknai kehidupannya.

“Pada tahun 1929 wanita Bali toples. Makna wanita Bali bertelanjang dada adalah bukti dari suatu kejujuran,” ungkap, Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum, Sejarawan sekaligus akademisi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (15/1/2015).

Makna kejujuran wanita Bali pada jaman dahulu yang ditunjukan dengan bertelanjang dada (toples), dimana wanita dapat menjaga apa yang mereka miliki. “Barang siapa yang bisa menjaga barang paling terlarang, tetapi mahal itu akan dapat menjaga dirinya sendiri dan tidak membiarkan dirinya diganggu orang lain,” bebernya.

Dengan sebuah kejujuran yang terlihat dari apa yang dimiliki wanita-wanita Bali sebagai sesuatu yang sangat penting akan dapat memberikan kepercayaan bagi orang lain. “Sebab jika buah yang dilarang itu tidak pernah disentuh, ia tidak akan layu. Jika buah itu masih segar, maka pemilik buah itu akan masih bisa dipercaya,” jelas Wijaya. 


Seni photography dengan gadis Bali jaman dulu

Pada tahun tahun berikutnya, mulai ada pergerakan para perempuan Bali yang bersekolah di luar Bali yaitu Probolinggo, Jawa Timur. Mereka yang kembali pulang, membuat penyadaran akan cara berpakaian, termasuk membuat kursus kursus menjarit kebaya.

Namun, baju kebaya yang datang dari Jawa ini, tidak membuat nyaman perempuan Bali.

“Yang paling susah dipakai wanita Bali, ketika berkenalan dengan paham pakaian lengkap seperti kebaya,” ungkap Sejarawan yang memperoleh gelar Doktor di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta ini.

Alasannya pun cukup sederhana, yakni kebaya dapat menggangu setiap aktivitas yang dilakukan oleh wanita-wanita Bali tempo dulu. Dimana disebabkan oleh kebaya memiliki lengan terlalu panjang dan ujungnya mengecil.

“Karena mengecil lalu dimodifikasi, sehingga lengan kebayanya melebar dan mudah dilipat. Agar mudah saat menumbuk padi, dan kegiatan lainnya.” jelasnya. 


Sumber: suluh bali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image