Kabardewata.com

Cerita Bersambung

Cerita Horor Seram - Misteri Boneka Misterius

Kategori Cerita Bersambung, December 31, 2015, Dilihat sebanyak 1616 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Libur akhir semester pun tiba, aku dan ke empat temanku yaitu Dini, Aldi, Rifa, dan Semy pun berniat untuk berlibur bersama di bogor. Kami semua bersepakat untuk menginap di villa milik kedua orangtua Aldi. Malam ini tepat pukul jam 21:00 WIB, aku dan teman-temanku akan melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk berlibur dan kami pun berangkat ke bogor menggunakan mobil milik Dini. Sepanjang perjalanan aku dan teman-temanku terus saja bernyanyi riang menumpahkan segala perasaan gembira malam ini.

“Lis, kamu bawa makanan enggak? Aku lapar nih.” ucap Dini padaku, aku dengan senang hati memberikan sedikit makanan ringanku pada Dini. Sudah hampir 3 jam, namun kami belum juga sampai di bogor. Ku lihat keempat temanku sudah tertidur pulas lain halnya dengan diriku dan supir pribadinya Dini. Aku bosan, lebih baik aku membuka youtube dan menonton film horror kesukaanku.

Pagi yang cerah pun menyapa, hembusan udara pagi hari begitu menyegarkan badan ini. Tak terasa melakukan lebih dari 5 jam perjalanan akhirnya aku sampai di villa milik Aldi. Keempat temanku masih tertidur pulas di dalam kamar padahal mereka semalam tertidur cukup lama. Aku menyusuri setiap sudut villa milik Aldi, luas. Halaman di sini benar-benar sangat luas dan indah, aku terus berjalan dan berjalan sampai langkahku terhenti di sebuah rumah yang sedikit aneh, mungkin luasnya seperti setengah dari rumahku. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut.

“Assalamualaikum..” ucapku, namun aku tak mendengar balasan dari dalam rumah tersebut.
Aku berjalan perlahan dan di dalam rumah tersebut sangat kotor dan beberapa barangnya pun tertutup kain putih yang diselimuti oleh debu.
“Apa ini, apa ini boneka?” aku terkejut melihat sebuah boneka serupa dengan manusia tepatnya serupa dengan balita.
“Brugg…” aku melihat sebuah benda jatuh dari atas lemari. Karena kaget aku pun ke luar dari rumah tersebut dengan perasaan penuh ketakutan dan tanpa aku sadari, boneka itu masih dalam genggamanku.

“Kamu habis dari mana Lissa?” Tanya Aldi, aku hanya diam membisu sambil memeluk boneka yang aku ambil dari rumah kecil tadi. Aldi menepuk pelan pundakku ia berusaha menyadarkan aku dari lamunanku.
“Aku habis dari rumah kecil yang berada di belakang villa ini, dan aku menemukan boneka ini.” balasku datar.
“Lissa, itu boneka apa? Apa itu boneka setan?” sambar Dini dari arah belakangku, entah mengapa setelah Dini berbicara seperti itu aku merasakan hawa dingin sedang menyelimuti tubuhku ini. Boneka ini pun mendadak terasa sangat berat.

Aku, Aldi, Dini, Semy, dan Rifa terus saja memandangi boneka tersebut. Semua pun berkomentar tentang boneka tersebut. “mungkin ini boneka milik penjaga villa mu Aldi.” ucap Semy.
“Lebih baik kita buang saja boneka jelek ini.” ucap Rifa lalu mengambil boneka itu dan membuangnya di tempat sampah. Malam pun tiba, kami semua sangat menikmati pemandangan serta hembusan angin malam ini sambil sesekali kami pun bernyanyi dan tertawa lepas. Namun jujur tak bisa aku pungkiri pikiranku masih tetap tertuju pada boneka misterius itu.

“Aku mau ke toilet dulu, yuk Lissa antar aku.” ucap Rifa.
Aku dan Rifa pun ke kamar mandi, saat di dekat dapur tak sengaja aku melihat sosok anak kecil berambut panjang sedang duduk termenung sambil memeluk boneka misterius yang sama percis aku ambil dari rumah itu.

“Aneh perasaan tadi siang aku tidak melihat anak kecil.” gumamku dalam hati.
“Lissaa… Lissa…” teriak Rifa di dalam kamar mandi, aku segera berlari menyusul Rifa.
“Rifa kamu kenapa?” tanyaku sambil memeluknya.
“Itu.. itu.. boneka itu..” balas Rifa sambil menunjuk ke arah sudut kamar mandi.

Jantungku berdegup begitu cepat, seluruh tubuhku mendadak kaku dan tak bisa digerakkan. Boneka misterius itu tiba-tiba sudah ada di dalam kamar mandi dengan bajunya yang berlumur darah padahal baru saja aku lihat boneka itu sedang dipeluk oleh gadis kecil di dekat dapur tadi. Setelah beberapa menit, seluruh tubuhku kembali normal dan aku serta Rifa segera kembali ke halaman depan untuk menemui Dini, Aldi, dan Semy.

“Kalian lama sekali sih!” ucap Dini kesal.
“Kalian kenapa?” Tanya Semy sambil menatap aku dan Rifa. Aku dan Rifa pun menceritakan semua yang terjadi pada kami saat di dalam kamar mandi.
“Bukannya boneka itu sudah kita buang?” Tanya Semy heran.
“Apa mungkin boneka misterius itu..” ucap Aldi sambil menggandeng lengan Semy.
“Apa boneka itu, boneka setan?” celetuk Dini.

Tiba-tiba semua mendadak gelap, semua lampu yang ada di villa mati secara mendadak, aku dan keempat temanku pun saling berpegangan untuk mengurangi rasa takut kami. Tidak lama kemudian semuannya kembali terang, aku hembuskan napas perlahan.
“Rifa mana?” Tanya Dini, aku melihat sekeliling dan ternyata Rifa tidak ada.
Aku dan yang lain pun segera pergi mencari Rifa di dalam villa. Sampai akhirnya aku kembali terhenti di depan rumah aneh itu.
“Kenapa naluriku ingin sekali memasuki rumah ini.” batinku.

“Clekk..” tiba-tiba pintu rumah itu pun terbuka dengan sendirinya tanpa ada kemuan dariku, kakiku melangkah dengan tiba-tiba, seakan-akan ada seseorang yang berusaha kuat mendorongku untuk pergi memasuki rumah itu. Aku sangat terkejut saat memasuki rumah aneh ini, aku melihat temanku Rifa sedang tertawa sambil memainkan boneka misterius itu.
“Rifa..” Panggilku namun ia tak menjawabnya ataupun mengalihkan tatapannya padaku. Aku menghampiri Rifa dan menepuk pelan pundaknya namun ia malah menatap tajam ke arahku.

“Mau apa kau ke sini.. pergi dari sini…” teriaknya padaku. Aku melihat raut wajahnya yang marah, ini bukan Rifa.
“Lissa..” Teriak seseorang dari luar, aku yakin itu suara Aldi.
“Aldi.. tolong aku…” teriakku. Tak berapa lama Aldi dan yang lain pun datang menghampiriku, tapi mereka juga datang dengan seorang lelaki paruh baya.
“Dia siapa?” tanyaku.
“Dia adalah Pak Gino, beliau adalah pemilik rumah ini sekaligus penjaga villa ini.” balas Aldi begitu tenang.
“Jangan.. jangan ambil bonekaku.. pergi..” teriak Rifa penuh dengan amarah.

Pak Gino mencoba mendekati Rifa dan membelai rambut Rifa dengan penuh kasih sayang. “kenapa kau seperti ini nak..” ucap Pak Gino. Rifa hanya menatap tajam ke arah Pak Gino, raut wajahnya pun masih sama. Rifa memandang Pak Gino dengan penuh amarah. “Ayah salah nak, maafkan Ayah.. Ayah mohon jangan ganggu mereka.” lanjut pak Gino, Rifa membalasnya dengan tangisan yang begitu keras dan tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan.

Ini sudah larut malam, mungkin sekarang sudah hampir jam 12 malam. Tiba-tiba Dini membangunkanku, ia memberitahuku bahwa Rifa tidak ada di dalam kamarnya. Aku dan Dini segera pergi mencari Rifa di rumah aneh itu, sesampainya di sana aku dan Dini sangat terkejut saat melihat boneka misterius itu berada tepat di depan pintu rumah. Aku memberanikan untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Dini di luar.

Saat masuk ke dalam rumah aneh itu semuanya gelap tidak ada cahaya sedikit pun yang menyinari rumah ini. Aku berjalan pelahan namun sangat ganjal, ku rasakan pergelangan kakiku ada yang menyentuh dengan perasaan takut aku segera berlari namun kakiku tergelincir dan membuatku jatuh. DEG! Jantungku berdetak lebih cepat, tepat di depanku telah berdiri seorang wanita dengan rambut yang begitu panjang.

“Si.. siapa kau? Jangan ganggu aku..” ucapku. Aku mencoba menjauhkan diriku, aku kebingungan harus berlari ke mana. Aku mendengar suara gaduh di dalam rumah, suara tersebut semakin membuatku takut. “To.. tolong…” teriakku. Perempuan itu semakin mendekat dan kedua tangannya menyentuh bagian leherku karena rasa takut yang semakin menjadi aku memejamkan kedua mataku. “Jangan ganggu aku…” teriakku sambil menangis. Sentuhan itu sudah tidak terasa lagi di bagian leherku. Aku membuka kedua mataku dengan perlahan dan ku lihat cahaya begitu terang dan beberapa hiasan balon di dinding yang menghiasi setiap sudut rumah.

“Selamat Ulang Tahun Lissa.” ucap perempuan yang berdiri di depanku itu.
“Rifa.. kau..”
“Selamat Ulang Tahun Temanku Lissa.” ucap Semy, Aldi, dan Dini serempak sambil menghampiriku.
“Kalian mengerjaiku?” tanyaku dan mereka semua hanya menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum lebar.

Ternyata semua kejadian aneh yang terjadi hari ini hanya sebuah skenario yang telah direncanakan oleh teman-temanku dan dibantu juga oleh Pak Gino serta Vira anaknya yang saat ini masih berumur 7 tahun dan boneka misterius itu hanya boneka biasa milik Vira. Tapi tetap saja aku kaget bukan main, kejadian ini hampir membuatku serangan jantung. Ini benar-benar kejutan dan pengalaman yang paling sangat menegangkan sekaligus mengesankan untukku.


Sumber: Cerpenmu

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image