Upacara Perang Pisang

Upacara Perang Pisang

Upacara Perang Pisang bisa juga disebut dengan mesabatan biu, tradisi perang pisang terdapat ini di Desa Tenganan Daud Tukad, Kecamatan Maggis, kabupaten Karangasem, berjarak sekitar 60 km arah timur kota Denpasar Bali, lebih kurang 70 menit waktu tempuh perjalanan bila menggunakan kendaraan bermotor.Desa Tenganan Daud Tukadtermasuk salah satu desa tua di Bali yang disebut Bali Aga.

Upacara Perang Pisang ini adalah dalam rangka memilih ketua dan wakil ketua kelompok pemuda di desa tersebut. Perang pisang dilakukan sebagai tes untuk menguji mental dan kedisiplinan para calon, sebelum menjadi pemimpin terlebih dahulu mereka harus menempuh ujian.

Pelaksanaan upacara Perang Pisang dilaksanakan bersama dengan Aci Katiga (upacara pada bulan ketiga penanggalan Tenganan,dalam penanggalan nasional jatuh di akhir Maret dan awal April). Sebelum prosesi Perang Pisangdimulai semua pemuda desa diwajibkan memetik pisang yang ada di desa.

Dalam proses upacara Perang Pisang ini, ada 16 orang pemuda yang di pilih oleh Kelian adat sebagai lawan dalam perang melawan calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa tersebut, seluruh pemuda yang berjumlah 16 orang ini berkumpul di suatu tempat, yaitu ujung desa, setelah berkumpul mereka langsung berganti pakaian. Baju yang dikenakannya dilepas dan diganti dengan pakaian adat, kain kamben dan udeng (penutup kepala). Tidak memakai baju dengan bertelanjang dada menunggu perintah aba aba untuk menyerang.

Di ujung jalan yang berlawanan, berdiri dua pemuda yang akan menjadi lawan, mereka adalah calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa.

Para warga desa yang semula berkumpul di Pura Bale Agung ,diminta berjajar di sepanjang jalan yang nantinya akan dilalui oleh kedua pemuda tersebut.  Suasana bertambah semarak karena diiringi oleh suara gamelan khas Bali yang dimainkan para tetua desa.

Upacara puncak dilaksanakan ketika kulkul (kentongan khas Bali) dibunyikan beberapa kali. Setelah Kelian adat memberi aba-aba, para pemuda tadi segera bergegas berjalan dengan langkah setengah berlari menuju Pura Bale Agung. Tepat setengah perjalanan Perang Pisang pun terjadi, dua pemuda calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa ini menjadi sasaran utama lemparan, dengan wajah memar-memar, kulit memerah di sejumlah bagian tubuh, mereka harus tetap melangkah menuju pura.

Upacara Perang Pisang ini baru dihentikan setelah kedua calon berhasil sampai di pintu gerbang Pura Bale Agung. Begitu kedua calon berhasil lolos masuk pintu gerbang pura, mereka dinyatakan lulus dan berhak dikukuhkan menjadi Ketua dan Wakil ketua pemuda desa tersebut.

Pelaksanaan upacara Perang Pisang diakhiri dengan megibung (makan bersama dalam satu wadah) di Pura Bale Agung yang diikuti semua warga desa. Mereka semua duduk melingkari makanan khas yang telah disiapkan sebelumnya. Tradisi ini untuk menghilangkan rasa permusuhan di antara pemuda desa, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diberikanNya, juga mengajarkan kepada anak-anak rasa toleransi dan kebersamaan dengan harapan agar anak-anak tersebut kelak dikemudian hari tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat desa.

(Artikel dari berbagai sumber)


Tuangkan Komentar Anda
Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>
CAPTCHA Image
Reload Image