Kabardewata.com

Opini

Hai Orang Bali, Jangan Bilang Semua Agama Sama!

Kategori Opini, July 16, 2015, Dilihat sebanyak 3264 kali, Post oleh Rusadi Nata


Jika anda seperti saya, suka ngintip diskusi lintas-agama di forum-forum dan media sosial, pasti pernah menemukan semeton Bali yang dengan bijak mengatakan “semua agama sama.”

Mungkin maksudnya untuk menjadi penengah sekaligus mencegah agar diskusi tidak berkembang menjadi aksi saling-hujat.

Sayangnya, niat baik tidak selalu ditanggapi baik. Yang lebih sering terjadi, ungkapan “semua agama sama” dari umat Hindu justru menjadi sasaran hujat tambahan. Pasalnya, ada saja pihak yang sangat keberatan agamanya dipersamakan dengan agama lain.

“Woi! Jangan bilang semua agama sama!” ujar mereka yang kemudian disusul dengan argument blah blah blah blah… lalu berlanjut menjadi bantah-membantah, hujat-menghujat, olok-olok, bahkan caci-maki.

Tidak usah anak remaja, anak TK juga tahu agama non-Hindu tidak sama dengan Hindu, nama agamanya saja sudah jelas-jelas beda koq. Ungkapan “semua agama sama” dalam konteks ini maksudnya semua agama sama-sama mengajarkan tentang: kebajikan, mengasihi mahluk ciptaan Tuhan lainnya, dan berbhakti kepada Tuhan.

Namun yang terungkap dalam berbagai diskusi terbuka, biasanya, jarang ada pihak non-Hindu yang sepaham dengan pandangan tersebut. Itu sebabnya mengapa kebanyakan diskusi lintas agama di forum-forum terbuka cenderung berubah menjadi debat-kusir yang tak berkesudahan.

Ya, begitulah. Debat topik agama memang tak ada habisnya. Tulisan ini—susah payah saya buat—tidak untuk mendebat siapapun. Melainkan sekedar sharing pandangan diantara sesama semeton Bali penganut Hindu saja (sekalilagi untuk sesama semeton Bali penganut Hindu saja), mengenai: Masihkah kita (penganut Hindu di Bali) perlu mengatakan “semua agama sama”?

Memang agak sensitive. Namun, saya pikir, mungkin ada baiknya diketahui oleh semeton sedharma. Nanti akan saya sampaikan lebih detail. Sebelum itu ada satu pertanyaan yang penting untuk dijawab.

 

Apakah Semua Agama Sama?

Di masa sekolah dahulu, sayapun memperoleh pemahaman bahwa “semua agama sama,” setidaknya sama-sama mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan, sama-sama mengajarkan kebajikan, dan sama-sama mengajarkan untuk saling mengasihi diantara sesama manusia. Sebab kita (manusia), terlepas dari apapun ras, suku, bangsa dan agama kita masing-masing, berasal dari sumber yang sama dan akan kembali pada sumber yang sama juga. Dalam Bhagawad Gita disebutkan:

“Jalan manapun yang engkau tempuh, akan sampai kepadaku”

Itu sebabnya saya tak pernah kaget ketika aktivis kemanusiaan Barat memunculkan gerakan yang mereka sebut “oness” di era modern ini. Weda sudah mengajarkan onesskepada para pengikutnya sejak ribuan tahun silam.

Yang agak naif, mungkin, pada masa-masa sekolah saya mengira semua agama berprinsip seperti demikian. Setelah tinggal di Jawa dan banyak berinteraksi dengan umat agama lain saya baru ‘ngeh’ ternyata perkiraan saya itu samasekali keliru.

“Enak saja bilang agama kami sama dengan agama kalian para penyembah patung. Agama kami diturunkan langsung oleh Tuhan, sedangkan agama kalian hanya buatan manusia” ungkap mereka. Katanya, inilah alasan mengapa agama mereka disebut (oleh mereka sendiri) sebagai “agama langit” sementara Hindu “agama Bumi.”

“Agama kami adalah satu-satunya yang benar dan sempurna thus penganutnya dijamin masuk surga. Barang siapa yang tidak percaya (dengan hal ini), maka dipastikan akan masuk neraka yang kekal“ ujar yang lainnya, di kesempatan berbeda.

Lebih ekstrimnya lagi, bahkan, mereka mengklaim hanya Tuhan mereka yang asli.

Selama tinggal di luar Bali, saya banyak bergaul dan berinteraksi dengan berbagai macam orang dari latar belakang suku dan agama berbeda-beda. Yang agak mengagetkan sekaligus membuat saya merasa sendirian, setidaknya dalam pemikiran, setidaknya saat tinggal di perantauan, ternyata mereka yang menganut agama berbeda-beda itu memiliki kesamaan pola pikir, yakni: “Hanya tuhan kami yang asli, hanya ajaran agama kami yang benar, dan hanya kami yang akan masuk surga.”

Jika browsing di website-website tertentu, termasuk group-group media sosial, semeton Bali masih bisa menemukan ungkapan-ungkapan seperti itu hingga sekarang. Tentu saja tetap begitu dan akan terus begitu. Sebab, katanya, apa yang mereka sampaikan adalah perintah tuhan melalui kitab suci agama yang mereka anut.

Saya tidak tahu apakah benar agama mereka mengajarkan hal-hal seperti itu. Jika benar, maka jelas sudah bagi saya, bahwa:

  • Hanya Hindu yang memandang “semua agama sama bagusnya”—setidaknya sama-sama mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan dan menyayangi sesama manusia terlepas dari apapun latar bekalang suku, ras, bangsa dan agamanya.
  • Hanya Hindu yang mengajarkan “semua manusia bersumber dari yang sama dan akan kembali ke sumber tersebut.”
  • Hanya Hindu yang mengajarkan “semua manusia (terlepas dari apapun ras, suku, bangsa dan agamanya) menyembah Tuhan yang sama.”

Nah dengan kenyataan ini, apakah kita masih perlu ngotot mengatakan “semua agama sama”?

 

Apakah Masih Perlu Mengatakan Semua Agama Sama?

OK. Kita tahu bahwa Weda, Baghawad Gita dan sastra Hindu lainnya jelas-jelas mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan, mengasihi ciptaan Tuhan lainnya (terlebih manusia) dan semua manusia sama di hadapan Tuhan—yang membedakan hanya ‘karma’ (=perbuatan) kita masing-masing.

Adalah tidak mungkin bagi kita (Orang Bali pemeluk Hindu)—yang diajarkan untuk selalu jujur—menyampaikan hal yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh agama kita. Bahwa non-Hindu memiliki pandangan yang berbeda, itu urusan mereka—yang tentu saja akan menjadi karma mereka sendiri. “Ala ulah nia ala tinemu, ayu kang kinardi ayu pinanggih.”

Ketika ada pihak lain yang merendahkan atau bahkan menghina kita, kemudian kita membalasnya dengan cara merendahkan atau menghina mereka, lalu apa bedanya kita dengan mereka.

YES or NO?

Mungkin anda menjawab “YES” atau “NO” atau “maybe YES maybe NO.” Saya tidak tahu.

Yang jelas saya pribadi YES 100%. Tetapi, sudah sejak lama saya memutuskan untuk BERHENTI mengatakan “semua agama sama.”

Mengapa?

Sebab:

Pertama, saya tidak ingin ada yang MENGIRA ajaran Weda lebih buruk dibandingkan ajaran agama lain dan ungkapan “semua agama sama” dari saya diartikan sebagai upaya untuk mengangkat derajat ajaran Weda agar bisa sejajar dengan ajaran agama lain. NO! Saya tidak mau itu. Sebab, pada kenyataannya, ajaran Weda sudah ‘beyond’ thus tidak perlu diangkat-angkat oleh siapapun (terlebih oleh saya yang bukan siapa-siapa) dan ajaran Weda terlalu agung untuk disandingkan dengan ajaran agama manapun.

Kedua, saya tidak mau membohongi diri sendiri dengan berpura-pura menganggap perilaku semua pemeluk agama lain baik, padahal kenyataannya tidak. Saya tidak mau menjalankan prinsip “toleransi” dengan cara mentolerir sikap “tidak toleran” dari pihak lain.

Sekarang, tolong jangan salah paham. Jangan dikira saya begitu repot mengurusi isi kepala orang lain. NO!

Saya tidak peduli dengan apa yang pihak luar pikirkan tentang ajaran Weda atau Hindu. Saya tidak peduli dengan pendapat mereka mengenai sistim kepercayaan yang saya anut dan jalan hidup yang saya tempuh. Pikiran-pikiran mereka, ucapan-ucapan mereka, hidup-hidup mereka, ngapain saya yang repot?

Saya yakin sebagian dari anda juga berpikir begitu.

Yang berbahaya—thus harus kita cegah—adalah, ketika di satu sisi kita selalu mengatakan “semua agama sama bagusnya” terutama kepada generasi muda kita sendiri, sementara di sisi lainnya kita tidak (atau belum) pernah mengajari mereka tentang Tattwa/Filsafat Weda dan Chandogya Upanishad secara mendalam—yang kita ajari hanya kulit-kulitnya seperti yadnya, upakara, upacara, perayaan-perayaan, festival-festival, kesenian, budaya, tradisi, dlsb—hanya karena takut membuat ajaran agama lain terlihat kerdil lalu menyinggung persaan umatnya.

Apa yang terjadi bila itu yang kita lakukan?

Akan semakin banyak generasi muda kita yang berperilaku “ngutang kandik nuduk jaum”—mengadopsi nilai-nilai luar yang mereka pikir sesuatu yang baru dan lebih baik dibandingkan ajaran Weda padahal sesungguhnya semuanya sudah ada dalam Weda dan sastra Hindu lainnya. Tanpa kita sadari kita telah menggiring generasi muda kita untuk ‘nyemplung’ ke dalam lubang sempit yang akan memenjarakan intelektualitas dan spiritualitas mereka.

Tidak tahu dengan anda. Saya pribadi tidak mau itu terjadi. Saya merasa punya kewajiban (skala dan nisakala) untuk memastikan generasi penerus saya akan memperoleh ruang yang cukup dalam mengembangkan kecerdasan intelektual dan spiritual mereka di masa depan.

Oleh sebab itu saya tidak akan pernah mengatakan “semua agama sama (bagusnya)” sampai mendapat keyakinan:

  • Semua umat beragama memiliki pandangan yang sama mengenai hal ini; ATAU
  • Generasi muda saya sudah memahami ajaran Weda dan sastra Hindu secara mendalam (tidak sebatas kulit-kulit.)

Dan, jika diberi kesempatan dan kesehatan, maka lewat popbali.com (dan facebook pagenya) saya akan terus mengungkapkan hal-hal yang selama ini terkesan tabu untuk dibicarakan oleh lembaga resmi Hindu di Indonesia.

 

Hindu: Peragu atau Penakut?

Tentu saja saya menyadari sepenuhnya bahwa, KITA—para penempuh jalan dharma yang tak lain adalah keturunan Adi Sanatana—telah ditakdirkan untuk (secara mentalitas) selalu diombang-ambing oleh keraguan antara menegakkan dharma secara tegas ATAU membiarkan adharma merajalela. Sama seperti Arjuna dan keempat saudaranya yang juga keturunan Adi Sanatana dan selalu dilanda kebimbangan setiap kali menghadapi perilaku adharma para Khurawa.

Diantara keturunan Adi Sanatana, ada yang berwatak jujur dan bijak seperti Yudhistira yang selalu diambil untung oleh kelicikan Shakuni. Ada yang berwatak keras dan perkasa seperti Bhima namun selalu terpaksa mengalah kepada Duryodhana yang tak pernah ragu untuk menghabisinya, demi menghormati prinsip yang dianut oleh Kakak tertuanya (Yudhistira). Ada yang cerdas dan pemberani seperti Arjuna namun selalu terpaksa menahan diri demi rasa cintanya kepada Kakek Bishma, Paman Widura, Paman Destarastra, bahkan para sepupu yang tak pernah segan untuk menyingkirkan dirinya dengan cara apapun.

Untung ada Basudewa Krishna, representasi dari keperibadian Yang Maha Sempurna, yang—dengan Kemahakuasaannya—berhasil membawa Arjuna bersama keempat saudaranya keluar dari gelombang samudera kebimbangan tak bertepi, thus dharma menjadi tegak kembali.

Pertanyaannya: Di era modern seperti sekarang, kemanakah kita—para keturunan Adi Sanatana yang peragu ini—mencari sosok Basudewa Krishna guna memohon petunjuk? Kita yang sudah berumur mungkin sudah tak punya energi yang cukup untuk mencari ke sana kemari. Bagaimana dengan generasi muda? Bagaimana jika mereka keluyuran mencari di luar sana padahal yang dicari-cari sudah ada di dalam? Apa tidak kasihan?

 

 

 

sumber: popbali


Sumber: Kabardewata.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image