Kabardewata.com

Sosial Budaya

Wedakarna Minta Pengusaha Bali Sumbangkan Ternak Babi ke Warga Miskin

Kategori Sosial Budaya, February 05, 2016, Dilihat sebanyak 283 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Menyikapi hasil pertemuan dengan unsur DPD RI, Kapolda Bali, Danrem TNI AD, MUDP Bali, Kemenhumkam RI dan sejumlah ormas, di Kantor Gubernur Bali pada Senin (18/1/2016), Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III menolak munculnya baliho Galungan dan Nyepi dari ormas yang sedang menghadapi masalah hukum.

Hal ini untuk menghormati proses hukum yang berlangsung setelah kerusuhan ormas berlangsung pada 17 Desember 2015 yang menewaskan 4 orang krama Bali.

Gerakan moral Satyagraha ini terus disampaikan oleh Gusti Wedakarna yang lebih memilih pengamanan berbasis adat Hindu yakni Pecalang atau Jagabaya.

Sikap tegas itu disampaikan Gusti Wedakarna saat hadir di Kecamatan Kuta Utara dalam rangka bertemu dengan sejumlah Pecalang dan Jagabaya dalam rangka mensosialisasikan Piagam Tantular terkait penolakan Desa Syariah dan juga sosialisasi penanganan ormas anarkis.

“Saya meminta agar desa adat di Bali untuk membantu DPD RI dalam melarang pemasangan Baliho Ormas yang masih punya masalah hukum di Bali. Pelarangan ini agar tidak mengganggu penyelidikan kasus hukum di Bali. Sehingga suasana kondusif saat Galungan dan Kuningan serta Nyepi bisa terjaga. Solusi tegas lainnya, agar Pecalang dan Jagabaya Bali diberdayakan. Saya minta semua pengamanan desa adat agar diprioritaskan kepada Pecalang dan Jagabaya di Desa Adat. Siapapun harus tunduk terhadap hukum adat Hindu di Bali, termasuk wisatawan, para pendatang dan juga masyarakat non-Hindu. Mari kita hargai dresta adat Bali yang dijiwai oleh nilai Hindu,“ kata Senator Wedakarna.

Hal lainnya, mulai pada tahun 2016 ini, pihaknya akan membuat tradisi baru dengan memberikan contoh membagikan hewan ternak babi dan babi guling kepada komunitas yang membutuhkan.

Hal ini untuk membayar rasa jengahnya kepada pejabat di Bali yang selama ini dirasa abai terhadap kebutuhan umat Hindu yang tidak mampu.

“Tahun lalu, di saat umat non-Hindu merayakan hari raya kurban, para pejabat di Bali ramai-ramai berpunia hewan kurban. Saya ingin menggugah kesadaran pejabat di Bali dan juga pimpinan BUMN, pimpinan perusahaan di Bali agar dapat membuat gerakan yang sama kepada umat Hindu. Ayo sumbangkan babi guling atau hewan ternak babi pada komunitas Hindu yang membutuhkan. Ini penting sekali untuk Bali. Ini juga mempertegas penolakan Bali terhadap Desa Syariah tempo hari. Saya hanya ingin melindungi peternak babi yang tersebar di seluruh Bali. Ayo kita bantu petani dan peternak babi kita,” kata Shri Gusti Wedakarna.

Selain itu pihaknya juga meminta Desa Adat di Bali untuk tidak segan meminta bantuan dan CSR pada saat hari raya Galungan.

“Desa adat di Bali bukan pengemis, tapi menagih hak dan janji para pendatang. Tapi siapapun yang bekerja di Bali harus tahu diri untuk membantu warga adat, orang miskin dan juga mereka yang membutuhkan. Ini sangat Pancasilais sekali bahwa di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” kata Gusti Wedakarna.


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image