Kabardewata.com

Sosial Budaya

Waspada, Ini Titik-Titik Rawan Longsor dan Banjir di Bali

Kategori Sosial Budaya, November 18, 2015, Dilihat sebanyak 224 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Tanda-tanda musim penghujan sudah muncul di Bali. Karena itu, perlu waspada akan terjadi gerakan tanah, seperti longsor dan banjir badang, jika terjadi hujan di atas rata-rata normal, terutama daerah di Kabupaten Buleleng dan Karangasem, Bali.

Kedua daerah itu mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali, demikian siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang diterima Antara di Denpasar, Rabu (18/11/2015).

Dalam prakiraan selama November 2015, dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dalam musim pernghujan nanti.

Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur yang memiliki daerah tandus paling luas di Pulau Dewata berpotensi paling banyak terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor seperti di kawasan Kecamatan Kubu, Abang, Bebandem, Rendang dan daerah Selat.

Sementara di Kabupaten Buleleng yang memiliki potensi besar akan terjadi bencana banjir bnadang serupa jika terjadi hujan menengah-tinggi di Kecamatan Seririt, Busungbiu, Sukasada, Banjar, Sawan dan Tejakula.

Di Kabupaten Tabanan yang terkenal dengan daerah Lumbung beras di Bali juga memiliki potensi untuk banjir bandang yakni di daerah wisata Kerambitan dan Penebel, sementara di Kabupaten Klungkung ada di daerah Dawan dan Kecamatan Klungkung.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng Putu Yasa dalam kesempatan terpisah menjelaskan, pihaknya mengintensifkan program mitigasi bencana alam menjelang musim penghujan pada awal Desember mendatang.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana tertuang pada Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Beberapa program mitigasi pengulangan resiko bencana banjir yang sudah dilakukan seperti gotong-royong membersihkan lingkungan sungai yang rentan mengakibatkan banjir baik skala kecil maupun besar.

Ia menambahkan, program gotong-royong melibatkan pemerintah, TNI, Polri dan masyarakat dilaksanakan secara rutin setiap seminggu sekali.

"Kadang juga dilakukan secara periodik sesuai kebutuhan. Program mitigasi penting dilakukan di kabupaten paling utara Pulau Dewata itu melihat kuantitas dan kualitas bencana cukup tinggi di beberapa titik tersebar di beberapa kecamatan," ujarnya. (*)


Sumber: tribunnews

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image