Kabardewata.com

Sosial Budaya

Unik, Trisna Diaben Bersama Tapakan Rangdanya, Petunjuk Arwah Almarhum

Kategori Sosial Budaya, October 21, 2015, Dilihat sebanyak 488 kali, Post oleh Admin Kabardewata


NEGARA - Setelah enam hari bersemayam di rumah duka, jasad almarhum I Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), yang sempat jadi korban penusukan saat menjaditapakan (pemeran) rangda, Senin (12/10/2015) lalu, akhirnya diaben pihak keluarga, Selasa (20/10/2015) kemarin.

Uniknya, saat prosesi pengabenan berlangsung tapakan rangdayang kerap digunakan almarhum saat pementasan, juga ikutdigeseng (dibakar) hari itu. Proses pengabenan berlangsung di Setra (kuburan) Desa Pekraman Tegalcangkring, Jembrana, Bali, sekitar pukul 09.00 wita.

Selain dihadiri pihak keluarga dan ratusan warga setempat, pengabenan juga dihadiri sejumlah aparat Polsek Mendoyo yang berpakaian preman. Namun kejadian aneh terjadi sesaat sebelum tapakan rangda dibakar. Bapak serta adik almarhum juga sempat kesurupan, namun tak berlangsung lama akhirnya sadar kembali setelah diberi tirta (air suci).

Menurut satu di antara kerabat korban yang enggan namanya dikorankan, tapakan rangda tersebut ikut diaben berdasarkan petunjuk dari arwah almarhum saat melangsungkan prosesi"mesuwugan" (meminta petunjuk pada paranormal untuk berkomunikasi dengan arwah).

"Pas mesuwugan arwahnya berpesan kalau tidak ada yang maumenyungsung tapakan rangda itu, maka akan ikut diprelinabersama dirinya. Tapi tapakan rangda-nya diprelina(dilebur) dengan cara digeseng," pungkas sumber tersebut Selasa kemarin.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Mendoyo, AKP I Gusti Komang Muliadnyana, seizin Kapolsek Mendoyo, mengatakan, pihaknya telah menerima hasil autopsi almarhum Trisna dari Forensik RSUP Sanglah, Denpasar pada Selasa (20/10/2015) kemarin.

Hasil autopsi menyebutkan jika korban mengalami luka tusuk di perut bagian kiri sedalam 16 cm. Selain itu, kata dia, berdasarkan hasil autopsi ternyata korban juga mengalami luka tusuk atau iris di usus  halus dan usus besar serta mengalami infeksi menyeluruh yang kemudian disimpulkan sebagai penyebab kematian korban.

"Itulah fakta ilmiah yang kami terima dari Forensik RSUP Sanglah yang menjadi penyebab kematian korban. Selain itu, tidak disebutkan penyebab kematian lainnya," bebernya.

"Kita juga masih menunggu hasil pemeriksaan barang bukti di Labfor. Mudah-mudahan hasilnya itu juga cepat keluar dan saat ini kami juga masih memeriksa saksi-saksi," pungkas Muliadnyana, kemarin. 

Sebelumnya, almarhum Trisna yang menjadi tapakan rangda saat pementasan calonarang di Pura Jati Luwih, Banjar Dauh Pangkung Jangu, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Senin (12/10/2015), sempat tertusuk keris oleh seorang pangerenceb. Setelah sempat bolak-balik dari RSUD Negara, almarhum akhirnya menghembuskan napas terakhir, Rabu (14/10/2015).

Berdasarkan keterangan pihak RSUD Negara beberapa hari yang lalu, korban Trisna saat dirawat pertama kali didapati menderita luka tusuk sedalam 1 cm di perut bagian kiri. Begitu pula saat pemeriksaan rontgen dilakukan pada korban yang juga tidak menunjukkan adanya luka tembus di usus besar korban. (*)


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image