Kabardewata.com

Sosial Budaya

Terserang Penyakit Langka, Kondisi Kadek Nia Masih Terbaring

Kategori Sosial Budaya, August 30, 2018, Dilihat sebanyak 65 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Malang tak bisa ditebak.

Musibah atau penyakit bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja.

Nia yang selama ini sehat, bugar, dan jarang sakit mendadak lumpuh total.

Kadek Nia Murni Yastini (18), nama lengkap remaja siswi SMK Penerbangan Cakra Nusantara Bali itu didiagnosa tim dokter menderita penyakit langka, yakni Guillane Bare Syndrome (GBS), sebuah penyakit yang mengacaukan kerja sistem kekebalan tubuh mandiri (auto-immune disease).

Penyakit ini menyerang berbagai usia dengan kemunculannya yang juga seketika.

Penyakit ini timbul dari pembengkakan syaraf peripheral, sehingga mengakibatkan tidak adanya pesan dari otak untuk melakukan gerakan yang dapat diterima oleh otot yang terserang.

Ketut Yastawa (59), ayah kandung Nia, saat ditemui Tribun Bali di ruang tunggu ICU RSUD Wangaya mengatakan, awalnya informasi itu ia terima sekitar Kamis (22/8/2018) lalu.

Saat itu, anaknya sedang menempuh pendidikan bahasa di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur selama dua bulan.

Namun, pada sekitar 2 minggu sebelum kepulangannya ke Bali, anak bungsu dari enam bersaudara ini mengabarkan kondisinya via telepon seluler.

"Waktu itu saya kira dia hanya sakit biasa, demam atau kelelahan. Jadi hanya saya suruh istirahat banyak dan minum obat saja. Tiba-tiba, besoknya saya dapat kabar dari guru pedampingnya di sana, Nia masuk rumah sakit dan tubuhnya lumpuh total," kisahnya kepada Tribun Bali dengan wajah sembap, Rabu (29/8/2018).

astawa mengatakan, seluruh tubuh anaknya dikatakan mengalami kelumpuhan total, tidak bisa digerakkan sama sekali.

"Kejadiannya cepat. Awalnya, tangannya terasa berat. Lalu lanjut kakinya hingga akhirnya terus nggak bisa bicara. Nggak bisa makan minum dan akhirnya seluruh tubuhnya nggak bisa dipakai gerak. Tapi, tetap sadar. Nia masih bisa melek," katanya.

Lebih jelas, kronologi awal mula kejadian ini dijelaskan guru pendamping Nia di Kampung Inggris, Made Sutawan.

Awalnya, kisah dia, Nia merasa tangan kirinya tidak bisa digerakkan, bahkan untuk membuka tutup pasta gigi saja ia tak mampu.

Namun, hal ini pun hanya dianggap angin lalu karena hanya dikira sebagai gejala kelelahan biasa.

Lalu, esok harinya, Nia mengabarkan bahwa dirinya tidak bisa berdiri dan bergerak sama sekali.

"Bahkan tangannya juga tidak mampu bergerak. Ia hanya bisa tidur telentang di atas tempat tidur. Namun ia masih bisa tersenyum dan tertawa," katanya melalui keterangannya di laman pengumpulan donasi kitabisa.com.

"Saya masih berpikir bahwa dia kelelahan," akunya sembari berinisiatif mengoleskan minyak ke kakinya bersama teman sekamar lain.

Namun, ia merasa ada keanehan pada kaki Nia.

Dicubitlah kaki Nia, namun Nia tidak merasakan apapun.

Seketika, ia langsung membawanya ke RS terdekat.

Saat pemeriksaan hari pertama, terang dia, belum ada tanda-tanda apapun kecuali melemahnya sistem saraf tangan dan kaki, hingga pada titik lumpuh total.

"Esoknya, Nia bahkan sudah tidak bisa menelan makanan bahkan cairan. Juga sempat gangguan pernafasan sehingga memerlukan bantuan oksigen. Mengedipkan mata dan bicara saja susah," kata dia.

Esok harinya, lanjut Sutawa, dokter syaraf di RS terdekat mendiagnosis bahwa Nia terserang penyakit GBS dan harus segera dirujuk ke RS Tipe A.


Saat itu, pihak keluarga ingin langsung merujuk pulang anaknya untuk dirawat di Bali saja.

Bahkan, pada malam harinya Nia dinyatakan koma di ruang ICU RSUD Wangaya.

"Langsung dibawa pulang pakai mobil ambulans Sabtu (25/8/2018) pagi, datang di RS Sanglah sekira Minggu malam. Namun waktu itu ruangan ICU RS Sanglah sedang full akhirnya langsung dirawat pindah ke RSUD Wangaya," kata ayah Nia, Yastawa saat ditemui di ruang tunggu ICU RS Wangaya, Rabu.

Hingga saat ini, siswi kelas XXI jurusan perkantoran ini masih terbaring lemah di pembaringannya sembari mendapatkan perawatan intensif oleh tim dokter RSUD Wangaya.

Tiga hari selama masa perawatan, belum ada perubahan kondisi signifikan terjadi pada tubuh Nia.

Diperkirakan, proses penyembuhan pasien ini bisa mencapai antara 2 bulan sampai 1 tahun tergantung kondisi pasien.


Yastawa mengungkapkan, tubuh anaknya hingga saat ini masih belum bisa bergerak sama sekali.

"Sudah ditangani sama tim dokter sini. Untuk sementara ini, terapinya masih seputar pemulihan dengan obat-obatan. Saya gak tahu jelasnya. Tapi hari ini tadi, bibir anak saya sudah mulai bisa gerak-gerak sedikit," kata kepala keluarga yang tinggal di Jalan Kebo Iwa, Denpasar ini.

Informasi yang dihimpun, penyakit yang diderita Nia membutuhkan biaya yang besar dalam pengobatannya.


Ia menuturkan, satu paket pengobatan Nia setiap harinya menghabiskan Rp 25 juta.

Ditambahkan, biaya itu harus ada di setiap harinya, hingga pasien dinyatakan sembuh.

"Itu belum di luar biaya ruang ICU dan alat bantu lainnya. Sementara untuk harga 1 paket obatnya mencapai Rp 125 juta," kata dia.

Ia menjelaskan, soal pembiayaan itu selama ini menggunakan jalur umum karena Nia belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Padahal, ia bersama sang istri kini tak memiliki sumber pendapatan lain selain dari uang jatah pensiunan sebagai mantan pegawai di Dinas Perhubungan, dan hasil berjualan nasi bersama istrinya di rumah.

Nominal pembiayaan yang begitu tinggi ini diakui Yastawa sempat membuatnya kaget.

Namun, demi kesembuhan sang anak, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik.

"Terpaksa saya cari pinjeman dulu ke keluarga besar. Tak apa, yang namanya musibah mau bagaimana lagi. Ini juga saya sudah mengurus kartu BPJS. Semoga lancar," kata dia.

Beruntung, kata Yastawa, anaknya memiliki sahabat-sahabat yang solid.

Ia mendengar mereka berinisiatif untuk menggalang donasi untuk membiayai perawatan anaknya.

Mendengar hal itu, ia setidaknya bisa bernafas lega dan merasa bersyukur masih banyak kepedulian yang tinggi dari sekitarnya.

"Saya juga kaget ternyata banyak teman-teman Nia support sekali, bahkan membantu bikin sumbangan. Saya sangat terbantu sekali," tukasnya sembari mengucapkan syukur terima kasih. (*)


Sumber: bali.tribunnews.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image