Kabardewata.com

Sosial Budaya

Bupati Jembrana Ingin Setiap Desa Punya Pasar dengan Sistem Modern

Kategori Sosial Budaya, January 29, 2016, Dilihat sebanyak 227 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Keberadaan pasar sebagai penunjang denyut perekonomian ditiap desa disadari betul Bupati Jembrana I Putu Artha. Hanya saja bangunan tradisional yang masih menyisakan kesan kumuh, jorok, dan becek terutama saat musim hujan dianggapnya suatu persoalan.

Hal ini menyebabkan mereka sulit bersaing dengan toko-toko moderen yang menjual kebutuhan serupa karena ditata lebih baik.

Hal ini diungkapkan Bupati Jembrana I Putu Artha saat menghadiri pemelaspasan sekaligus mulai beroperasinya penggunaan Pasar Umum Dauhwaru kecamatan Jembrana, rabu (27/1/2016).

Acara juga dihadiri Ketua DPRD Jembrana I Ketut Sugiasa serta Kepala Dinas Perindagkop Jembrana I Made Sudantra.

Dihadapan sejumlah pedagang pasar setempat, Artha ingin nantinya disemua desa dikabupaten Jembrana memiliki pasar desa dengan sistem moderen. Baik dari bangunannya, kemasan maupun pelayanan.

Kendati pasar desa tradisional memiliki faktor kekhasan sendiri karena baik pedagang maupun pembeli relatif berasal dari lingkungan yang sama, namun apabila “kesan lama” belum dihilangkan pada nantinya akan ditinggalkan pembeli. “sesuai hukum pasar tentunya konsumen akan memilih produk maupun penjual yang lebih baik,”sebutnya.

Target tersebut mulai berusaha dikejar dimana tahun 2016 ini telah direvitalisasi dua pasar yakni pasar Banjar Tengah Negara serta pembangunan pasar desa Ekasari Melaya.

Artha juga mensyaratkan dalam pembangunan itu mengurangi kios serta lebih memperbanyak porsi los untuk pedagang.Potensi kebakaran selama ini disebutnya banyak berasal dari kios.

Kepada pedagang di pasar Dauhwaru Artha juga meminta mereka menjaga kebersihan pasar yang baru saja dioperasikan itu serta melarang satu pedagang memiliki lebih dari satu kios.

Dirinya tak ingin kios-kios itu justru dijadikan gudang atau diperjualbelikan sehingga mengurangi kemanfaatan pasar. Bahkan Artha secara tegas mengancam akan mengambilalih dan memberikannya kepada pedagang lainnya apabila selama tiga bulan berturut-turut los dan kios tersebut dibiarkan tutup.

Pasar desa Dauhwaru dibangun dengan anggaran sebesar Rp 2,4 M yang berasal dari dana DAK serta pendampingan kabupaten. Pasar ini memiliki 22 kios dan dihuni 108 pedagang.

Sementara upacara pemlaspasan kemarin dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Kemenuh dari Griya Kusuma Batuagung. Ketua Panitia Karya I Gusti Ngurah Komang Arnata mengatakan biaya yang dihabiskan sebesar Rp 65 juta bersumber dari iuran masing-masing pedagang serta sumbangan donator.


Sumber: tribunbali

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image