Menyama Braya Masyarakat Indonesia-Tionghoa di Bali Perlu Dipelihara

Menyama Braya Masyarakat Indonesia-Tionghoa di Bali Perlu Dipelihara

Kabardewatan - Dalam kondisi kemajuan pembangunan dan tantangan perkembangan pariwisata internasional , masyarakat Bali yang heterogen tetap mampu membangun kehidupan yang rukun, selaras serta harmonis yang mencerminkan filosofis menyama braya. Filosofis tersebut yang menuntun untuk hidup berdampingan sebagai keluarga besar dalam beragama yang telah diimplementasikan oleh masyrakat Indonesia-Tionghoa yang ada di Bali. Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek 2567 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) Bali di Hongkong Garden, Denpasar, 

Pastika juga mengapresiasi masyarakat Indonesia-Tionghoa di Bali yang selama ini telah turut berperan penting dalam mensukseskan pembangunan daerah. Ungkapan dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung telah diimplementasikan dengan semangat membangun serta berbaur dengan kompenen masyarakat lainnya. Tahun baru Imlek juga dijadikan momentum religius untuk lebih menguatkan rasa kebersamaan, rasa saling menghargai, saling menghormati, serta mempererat tali persaudaraan secara menyeluruh dengan keluarga etnis Nusantara yang ada di Pulau Dewata. “Tahun Baru Imlek harus digunakan mempererat tali persaudaraan, tidak saja dikalangan keluarga besar PPIT Bali, tetapi secara menyeluruh ke keluarga besar etnis Nusantara,” ujar Pastika.

 Pastika juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia-Tionghoa di Bali bersama komponen lainnya senantiasa mempertahankan kerukunan yang telah terbangun serta menyeimbangkan pengamalan dharma agama dan dharma agama guna mewujudkan Bali yang aman, maju, damai dan sejahtera.  “Tahun Baru Imlek 2567 sebagai tahun monyet api merupakan binatang yang cerdas, pintar dan agak nakal, suka makan pisang dan buang kulitnya sembarang,” ungkap Pastika. Pastika mengharapkan pada tahun ini agar berhati-hati, tetap optimis, rejeki semakin lancar sehingga kesejahteraan dapat diraih serta tetap menjaga tali persaudaraan diantara masyarakat Indonesia-Tionghoa.

Sementara itu, Konjen Tiongkok di Bali, Hu Yinquan, menyampaikan perayaan tahun baru Imlek 2567  sebagai tahun baru monyet api adalah sebuah momentum dalam memperkokoh hubungan bilateral antara kedua negara yakni Indonesia-Tiongkok yang telah dibangun oleh PPIT. PPIT Bali yang belum lama berdiri telah mampu menjalin hubungan yang baik ke pemerintah serta mempererat tali persaudaraan antara masyarakat Indonesia-Tionghoa. Konsulat akan terus berupaya bersama organisasi masyarakat termasuk PPIT Bali untuk membentuk mitra strategis antara Tiongkok-Indonesia serta memberikan kontribusi yang baru antar kedua negara.

Sedangkan Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) Bali, Cahya Wirawan Hadi, meyampaikan bahwa Persahabatan Indonesia-Tiongkok bukan hal yang baru, akan tetapi sudah berlangsung  dari lama terutama di Bali yang  dimulai dari kisang Jaya Pangus dengan Kang Ching Wie. “Kisah Jaya Pangus dengan Kang Ching Wie merupakan sejarah yang telah turun temurun di masyarakat Bali dan jangan sampai dilupakan,“ ujarnya. Ia juga menyampaikan keberadaan PPIT di Bali merupakan jembatan emas dan penghubung persahabatan antara Indonesia-Tiongkok. 


Tuangkan Komentar Anda
Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>
CAPTCHA Image
Reload Image

Best Template For Your Online News

Buy Now

Stay Connected

Download our app and get latest news and updates. Watch live news anytime.