Kabardewata.com

Entrepreneur

Penelitian tentang Employee Engagement Bagian 1

Kategori Entrepreneur, March 11, 2016, Dilihat sebanyak 362 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Table of Contents

Pendahuluan
Apa itu Employee Engagement
Employee Satisfaction
Employee Engagement
Pengelompokan Employee Engagement

Pendahuluan

Produk, pelayanan, strategi dan teknologi, serta struktur biaya yang lebih baik, semua hal tersebut menentukan hasil yang terbaik, namun hal ini dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memunculkan inovasi.

Satu hal yang menciptakan keuntungan kompetitif yang berkelanjutan seperti ROI (Return on Investment) laba atas investasi, nilai perusahaan dan kekuatan jangka panjang berasal dari kekuatan pekerja, orang-orang yang merupakan bagian dari perusahaan itu sendiri yaitu para karyawan.

Dan jika hubungannya dengan orang-orang, penelitian telah memperlihatkan, lagi dan lagi, bahwa karyawan yang engaged secara signifikan melakukan pekerjaannya dengan sangat baik sebagai pembeda dibandingkan dengan yang lain. Karyawan engaged adalah tujuan yang paling pokok.

Dalam perspektif karyawan, hubungan personal dengan atasan langsung adalah kuncinya. Sikap dan tindakan atasan langsung dapat meningkatkan employee engagement (keterlibatan karyawan) atau malah menciptakan suasana dimana seorang karyawan menjadi disengaged (merasa bukan bagian dari perusahaan/organisasi).

Terlebih lagi, bagi karyawan, kemampuan kepemimpinan senior untuk menerima masukan mereka, mengarahkan perusahaan ke arah yang benar dan secara terbuka mengkomunikasikan keadaan organisasi merupakan hal yang penting dalam memperoleh engagement. Faktor yang lain yang memicu terjadinya engagement yaitu apabila karyawan diperlakukan dengan hormat, nilai-nilai pribadi mereka dilihat dan organisasi peduli dengan apa yang mereka rasakan.

Saat ini, employee engagement dan kesetiaan karyawan kedudukannya sangat vital untuk mencapai kesuksesan organisasi dan keuntungan kompetitif. Tidak ada lagi hari-hari dimana seorang karyawan muda memulai karirnya dan menetap hingga pensiun dalam lingkungan bisnis masa kini karena tak ada jaminan. Manajemen harus menganalisis bagaimana cara meyakinkan bahwa atasan berinteraksi dengan individual untuk membangkitkan kekuatan pekerja.

Karyawan adalah investasi terbesar perusahaan dan sudah sepatutnya diberikan imbalan yang paling besar. Meskipun begitu hingga saat ini, dalam sebagian besar organisasi, karyawan lebih dilihat sebagai aset yang harus dikelola daripada para individual yang mampu menciptakan inovasi selanjutnya demi kesuksesan perusahaan. Engagement jangka panjang dimulai dengan komunikasi yang baik antara atasan dan karyawan serta diantara rekan kerja sehingga menumbuhkan lingkungan kerja yang positif.

Apa itu Employee Engagement

Apa yang dimaksud dengan Employee Engagement? Keterikatan karyawan? Semua yang memuaskan kebutuhan karyawan? Perhatian atasan? Gaji besar?

Jawabannya adalah BUKAN!

Lantas apa bedanya keterikatan karyawan dengan kepuasan karyawan? Mengapa kepuasan karyawan tidak ada hubungan dengan employee engagement?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengundang rasa ingin tahu saya, karena permasalahan terbesar di bisnis adalah mampu tidaknya karyawan mendukung kesuksesan perusahaan.

Mari kita menganalisa sejenak perbedaan antara kepuasan/satisfaction dengan engagement

Employee Satisfaction

Sifatnya adalah mendorong karyawan hanya untuk “Just doing my job”, datang pagi pulang sore, sebisa mungkin tidak terlambat, mengikuti aturan perusahaan. Apakah mereka termotivasi? Belum tentu.

Banyak karyawan yang disiplin, tapi sesungguhnya hanya melakukan kewajiban saja. Jika anda bertanya kepada
karyawan, apakah anda puas? Mereka akan langsung menghubungkan kepuasan dengan income, tunjangan, fasilitas, bahkan bonus dan insentif. Gaji besar tidak menjamin karyawan puas, setuju?

Employee Engagement

Mendorong karyawan untuk “doing my job above and beyond” (melakukan pekerjaan saya secara luar biasa).

Employee satisfaction hanya mendorong seorang karyawan untuk memikirkan kesuksesan dirinya sendiri, sedangkan employee engagement akan mendorong setiap karyawan untuk menciptakan kesuksesan dirinya dan perusahaan tempatnya bekerja. Engagement berarti karyawan merasa terlibat dengan pekerjaannya sehingga mereka tergerak untuk bekerja untuk menghasilkan prestasi nyata bagi perusahaan.

Daniel Pink dalam bukunya Drive menjelaskan bahwa incentive/reward bisa menjadi alat yang melemahkan motivasi jika tidak ada otonomi, mastery dan purpose. Demikian juga dengan karyawan, meski gaji besar, jika tidak merasa terlibat akan kehilangan motivasi. Jadi employee satisfaction hanya mendorong komitmen pribadi, sedangkan employee engagement mendorong komitmen bersama. Inilah makna keterikatan karyawan dengan perusahaan, yakni adanya komitmen bersama antara perusahaan dengan karyawan.

Employee engagement juga dapat berarti bagaimana mendorong potensi karyawan kepada performance yang tinggi (high performance) yang menghasilkan setiap orang untuk memberikan kontribusi terbaik yang bisa mereka berikan.

Lihat fakta berikut ini:

Menurut hasil penelitian, karyawan yang sangat terikat 480% lebih berkomitmen untuk membantu perusahaan tempatnya bekerja untuk mencapai kesuksesan jika dibandingkan dengan karyawan biasa-biasa saja.
Mereka yang memiliki keterikatan tinggi juga memiliki kemungkinan lebih dari 250% untuk merekomendasikan perbaikan-perbaikan kepada perusahaan

High performing employee 370% lebih besar kemungkinan bagi mereka untuk merekomendasikan perusahaan sebagai tempat bekerja kepada orang lain.

Tapi ada fakta-fakta yang “menakutkan” yang perlu menjadi perhatian kita semua. Karyawan yang memiliki keterikatan yang rendah 4 kali lebih mungkin berhenti dari pekerjaannya ketimbang mereka yang memiliki keterikatan yang tinggi.

Sedangkan karyawan setingkat manajer yang memiliki tingkat keterikatan yang rendah, 3 kali lebih mungkin memiliki karyawan yang tidak merasa terikat dengan perusahaan.

Bahkan di Amerika, manager yang under perform mengakibatkan kerugian 450 miliar US Dollar tiap tahunnya.
Yang lebih menyeramkan, 35% karyawan di Amerika rela tidak menerima kenaikan gaji hanya demi melihat atasan mereka dipecat!

Tahun 2013, berdasarkan penelitian menyebutkan bahwa 7 dari 10 karyawan merupakan karyawan yang tidak memiliki rasa keterikatan dengan perusahaan.

Pengelompokan Employee Engagement

Apakah semua karyawan ini berada dalam tingkat engagement yang sama? Penelitian kami mengindikasikan perbedaan hasil yang signifikan di antara karyawan yang tidak terlalu terikat (moderately engaged) dan sangat terikat (highly engaged)


Indonesia
Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang terdiri dari 17.000 pulau (6000 tak berpenghuni) dan terbentang di garis khatulistiwa. Pulau-pulau terbesarnya antara lain Sumatra, Jawa (terpadat penduduknya), Bali, Kalimantan (Bagian Borneo milik Indonesia), Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Irian Jaya (disebut juga Papua Barat), yang merupakan bagian barat Papua Nugini.

Bagian utara Indonesia berbatasan dengan Malaysia dan bagian timur berbatasan dengan Papua Nugini. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik. Indonesia mempertahankan pertumbuhan GDP lebih dari 6% pada tahun 2010, 2011, dan 2012. Hal ini mengesankan mengingat gemparnya pemulihan ekonomi global dan kemunduran ekonomi di dua kelompok besar Asia yaitu China dan India.

Mungkin bukan posisi Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya mengingat negara dengan masyarakat multikultur serta perbedaan menonjol secara geografis dan bahasa ini menghadapi beberapa tantangan lokal, termasuk kebutuhan mendesak untuk pembangunan infrastruktur, laju ekonomi yang lambat dan perubahan sosial yang menghalangi lingkungan bisnis yang optimal, dan maraknya korupsi.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir 50% populasi Indonesia adalah masyarakat berumur dibawah 30 tahun. Konsep merekrut karyawan muda sebenarnya berlawanan dengan konsep tradisional yang lebih fokus untuk mempertahankan karyawan. Pembayaran dan kenaikan pangkat dalam suatu struktur hierarki bisnis tidak mungkin dilakukan untuk memulai perubahan budaya baru dan mengajarkan apa yang disebut sebagai “belajar berorganisasi” yang bukan merupakan hal yang ingin dicapai generasi Y.


Sumber: Tommcifle

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image