1867 - Pangeran Mutsuhito Dilantik Menjadi Kaisar Meiji, Kaisar Jepang ke-122

Kategori Sejarah Hari Ini, February 03, 2016, Dilihat sebanyak 498 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Kaisar Meiji ( 明治天皇 Meiji Tenno, lahir di Kyoto, 3 November 1852 – meninggal di Tokyo, 30 Juli 1912 pada umur 59 tahun), atauMeiji Agung (明治 大帝 Meiji-Taitei), adalah kaisar Jepang ke-122 sesuai urutan tradisional suksesi, memerintah dari 3 Februari 1867 sampai meninggal dunia. Dia memimpin masa perubahan yang cepat di Jepang, sebagai bangsa yang bangkit dari keshogunan feodal menjadi kekuatan dunia.

Nama pribadinya adalah Mutsuhito (睦仁). Di luar Jepang ia kadang-kadang disebut hanya nama Mutsuhito atau Kaisar Mutsuhito. Di Jepang, sebutannya setelah meninggal dunia adalah Kaisar Meiji karena kaisar Jepang yang sudah almarhum hanya disebut dengan nama anumerta.

Pada saat kelahirannya pada tahun 1852, Jepang adalah negara feodal yang terisolasi dan berada dalam keadaan praindustri, didominasi oleh pemerintah diktatorial militer Keshogunan Tokugawa dan daimyo yang memerintah Jepang menjadi lebih dari 250 domain terdesentralisasi. Pada saat kematiannya pada tahun 1912, Jepang telah menjalani revolusi politik, sosial, dan industri di dalam negeri (lihat Restorasi Meiji), dan muncul sebagai salah satu kekuatan besar di panggung dunia.

Artikel New York Times mengenai pemakaman kenegaraan Kaisar Meiji ditutup dengan pernyataan, "Kontras antara iringan yang mendahului mobil jenazah dan iringan yang mengikutinya memang sangat mencolok. Yang di depan itu Jepang lama, setelah itu menyusul Jepang yang baru."

Latar belakang
Keshogunan Tokugawa didirikan pada awal abad ke-17. Jepang diperintah oleh shogun yang berasal dari klan Tokugawa. Kira-kira 180 tuan tanah yang disebut daimyo menguasai domain feodal yang disebut han. Daimyo tunduk kepada shogun yang kadang-kadang memanggil daimyo untuk meminta hadiah, tapi daimyo tidak terkena pajak. Shogun menguasai para daimyo dengan banyak cara, hanya shogun yang dapat menyetujui perkawinan mereka, dan shogun dapat mencabut hak atas tanah feodal milik daimyo.

Pada tahun 1615, Tokugawa Ieyasu, shogun pertama Tokugawa yang secara resmi sudah pensiun dari jabatannya, bersama putranya pejabat shogun tituler Tokugawa Hidetada mengeluarkan kode etik bangsawan. Berdasarkan kode etik tersebut, kaisar diharuskan mengabdikan waktunya untuk ilmu dan seni. Para kaisar di bawah keshogunan tampak sangat patuh dengan kode etik ini, mereka mempelajari buku klasik Konfusianisme dan mengabdikan waktu menulis puisi dan kaligrafi. Mereka hanya diajarkan dasar-dasar sejarah dan geografi Jepang serta Tiongkok. Shogun tidak tidak meminta persetujuan atau nasihat dari kaisar untuk keputusan yang diambilnya.
Kaisar-kaisar hampir-hampir tidak pernah meninggalkan kompleks istana Gosho di Kyoto, kecuali bila sudah pensiun atau perlu berlindung di kuil ketika istana sedang kebakaran. Beberapa kaisar hidup panjang umur hingga pensiun. Dari lima pendahulu Kaisar Meiji, hanya kakeknya yang hidup hingga usia empat puluhan, dan meninggal dunia pada usia 46 tahun. Keluarga kekaisaran menderita tingkat mortalitas anak yang sangat tinggi. Semua kakak perempuan atau kakak laki-laki dari lima kaisar meninggal dunia sewaktu masih kecil, dan hanya lima dari lima belas anak-anaknya yang mencapai usia dewasa.

Tidak lama setelah berkuasa pada awal abad ke-17, pejabat keshogunan (biasa disebut bakufu) menghentikan semua perdagangan Jepang dengan dunia Barat, dan melarang misionaris untuk datang ke Jepang. Hanya orang Belanda yang diperbolehkan untuk terus berdagang dengan Jepang. Mereka memiliki sebuah pos perdagangan di pulau Dejima, Nagasaki. Meskipun demikian, kapal-kapal Amerika dan Eropa pada awal abad ke-19 makin sering muncul di perairan sekitar Jepang.

Masa kecil
Mutsuhito dilahirkan 3 November 1852 di sebuah rumah kecil milik kakek dari pihak ibu di ujung utara Gosho. Pada masa itu, kelahiran dipercaya sebagai sesuatu yang kotor, oleh karena itu, pangeran-pangeran tidak dilahirkan di istana, tapi biasanya di bangunan, sering bangunan sementara, di dekat rumah ayah dari wanita yang melahirkan itu. Ibu Mutsuhito bernama Nakayama Yoshiko, adalah selir (gon no tenji) dari Kaisar Kōmei, anak dari pejabat penasihat utama Nakayama Tadayasu. Pangeran muda ini diberi nama Sachinomiya, atau Pangeran Sachi.

Mutsuhito lahir ketika Jepang sedang mengalami perubahan besar. Perubahan tersebut terjadi setelah KomodorMatthew Perry dan armada kapal perang Amerika Serikat yang disebut Jepang "Kapal Hitam" tiba di pelabuhan Edopada bulan Juli 1853. Perry memaksa Jepang untuk membuka pelabuhan untuk perdagangan dengan kapal-kapal asing, dan mengancam Jepang dengan kekuatan militer bila mereka tidak setuju. Semasa krisis akibat kedatangan Komodor Perry, Keshogunan Tokugawa berkonsultasi dengan Istana Kekaisaran, sebuah tindakan yang tidak biasa dilakukan keshogunan. Menurut pendapat pejabat-pejabat yang membantu Kaisar Kōmei, mereka merasa Amerika harus diizinkan untuk berdagang dan meminta agar pihak kekaisaran lebih dulu diberitahu tentang langkah-langkah yang akan diambil keshogunan kalau Perry kembali lagi ke Jepang. Permintaan tersebut awalnya dituruti oleh keshogunan, dan untuk pertama kalinya dalam paling tidak 250 tahun, mereka berkonsultasi dengan Istana Kekaisaran sebelum mengambil keputusan. Keshogunan merasa Jepang tidak akan memenangkan perang, sehingga Pemerintah Jepang mengizinkan perdagangan dan tunduk terhadap perjanjian yang disebut sebagai "Perjanjian Tidak Adil", melepaskan otoritas tarif dan hak untuk mengadili orang asing di pengadilan Jepang. Kerelaan keshogunan untuk berkonsultasi dengan istana hanya berumur pendek. Pada tahun 1858, pihak istana diberi tahu tentang sudah ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan dan Perdagangan dengan Amerika, bersama sebuah surat yang menyatakan bahwa mengingat sedikitnya waktu, sulit untuk keshogunan untuk berkonsultasi. Kaisar Kōmei begitu marah hingga ia mengancam untuk turun takhta. Meskipun demikian, untuk turun takhta, kaisar perlu mendapat persetujuan dari shogun.

Masa kecil Kaisar Meiji banyak diketahui dari kesaksian-kesaksian di kemudian hari. Kisah-kisah yang ditulis oleh penulis biografinya, Donald Keene sering kontradiktif. Salah satu kisah kontemporer tentang masa kecilnya menggambarkan dirinya sebagai pangeran muda yang sehat dan kuat, agak suka mengganggu dan sangat berbakat dalamsumo. Kisah lain mengatakan pangeran sangat rapuh dan sering sakit. Beberapa penulis biografi mengatakan kalau dia pingsan ketika pertama kali mendengar tembakan senjata api, sedangkan penulis lain menyangkal kisah tersebut. Pada 16 Agustus 1860, Sachinomiya dinyatakan sebagai pangeran pewaris takhta, dan secara resmi diadopsi oleh permaisuri ayahnya. Kemudian pada tahun yang sama, tanggal 11 November, ia diangkat sebagai putra mahkota dan diberi nama dewasa, Mutsuhito. Ia mulai mendapat pendidikan pada usia 7 tahun. Ia membuktikan diri sebagai siswa kurang perhatian, dan di kemudian hari menulis puisi menyesali dirinya yang seharusnya lebih mendalami latihan menulis.


Sumber: wikipedia

Like & Share berita ini

loading...

Tulis komentar anda.


You can use the following HTML tags: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image


KOMENTAR
HEADLINES POPULER BISNIS BALI


POST sejarah-hari-ini LAINNYA