Kabardewata.com

Opini

Mengapa mesti takut menjadi pemangku?

Kategori Opini, November 04, 2015, Dilihat sebanyak 393 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Kebanyakan dari masyarakat Hindu di Bali sangat takut dan bahkan menghindar untuk menjadi seorang Pemangku ataupun seorang Sulinggih/pendeta Hindu. Kebanyakan dikarenakan alasan berikut :

  1. Takut melarat
  2. Tidak siap karena umur masih muda
  3. Tidak siap untuk menjalani berbagai pantangan ditengah maraknya kenikmatan duniawi


Mengapa harus takut?

Sesungguhnya menjadi pemangku ataupun sulinggih (yang pada umumnya terjadi karena takdir Tuhan) merupakan tugas yang sangat mulia. Dan kesucian ini, pada dasarnya bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk kesucian diri kita sendiri. Menjadi pemangku ataupun Sulinggih jangan dijadikan alasan untuk mencari kehormatan di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan tugas yang suci jelas memiliki tanggung jawab yang besar pula.

Banyak pelaku spiritual seperti pemangku ataupun sulinggih mengawali perjalanan hidupnya dalam mengemban tugas ini melalui fase penurunan ekonomi. Mengapa? 

Tugas suci dari Tuhan, sarat akan pelayanan. Dan pelayanan ini membutuhkan jiwa yang memang bisa melayani. Pelayanan yang akan diberikan kepada seluruh umat ciptaan Tuhan tanpa memandang wujud, kekayaan , jabatan , ataupun keturunan. 

Pelayanan yang betul-betul dilaksanakan dengan hati tulus dan sama sekali tak boleh teracuni oleh ego. Pelayanan yang didasari atas kesadaran bahwa semua adalah Tuhan itu sendiri. Sedangkan dijaman Kaliyuga ini, ego sangat dipengaruhi oleh harta. Sulit sekali untuk menghilangkan ego selama kita memiliki harta apalagi yang berlimpah. Selain itu dengan ekonomi yang dibuat terbatas, seseorang akan mampu untuk mengendalikan kama (nafsu) untuk memiliki sesuatu, karena pada dasarnya kekayaan itu akan memperbesar nafsu untuk memiliki. Jadi melalui penurunan ekonomi, Tuhan sedang mengajarkan pada orang-orang yg akan mengemban tugas suci ini untuk mengendalikan hawa nafsu dan ego.

Namun ini takkan berlangsung lama. Jika pada fase ini kita berhasil mengendalikan kama dan ego, maka fase ini akan berakhir dan berganti dengan kemakmuran. Banyak yang sudah membuktikannya. Jadi selama fase ini berlangsung, mari kita ikuti seperti air yang mengalir. Jangan menyesali ataupun melawannya. Justru syukurilah karena ini masa pembelajaran dan pendewasaan.

Tidak siap karena umur masih muda?

Mengapa mesti tidak siap? Sama halnya dengan saat kita bekerja sebagai karyawan kemudian pimpinan kita menawarkan jabatan Manager. Mengapa mesti tak siap? 

Umur bukan halangan. Banyak pemangku ataupun sulinggih di jaman sekarang ini masih berusia muda. Salah satunya di daera Kintamani. Ternyata hal ini sudah dinyatakan di dalam Bhagawad Gita. Bahwa seorang yogi yang belum mencapai kesempurnaan yoganya di kehidupan yang lalu maka di kehidupan kini mereka akan dilahirkan di keluarga yang suci dan bertugas melanjutkan kesempurnaan yoganya tersebut. Jadi hal ini membuktikan mengapa putra seorang pemangku ataupun sulinggih pada dasarnya akan menjadi pemangku ataupun sulinggih juga. Selain itu apa yang dijalani saat ini tak lepas dari kehidupan yang lalu. Simplenya, jika dulu tingkatan spiritualnya sudah mencapai kelas 5 berarti di kehidupan saat ini akan dimulai dari tingkat itu pula.

Usia muda bukan berarti kita tak kuat untuk mengendalikan diri. Dengan tekad yang kuat dan dilandasi pula dengan pengetahuan diri akan Sang Atman serta berbagai pengetahuan spiritual, usia bukanlah masalah.

Tidak siap melepas diri dari kenikmatan duniawi?

Menjadi pemangku apalagi sulinggih jelas harus bisa melepaskan keterikatan duniawi. Dan inilah yang menjadi ketakutan orang-orang yang akan mengemban tugas suci ini. Tidak lagi boleh ke swalayan atau mall, tidak boleh makan daging, tidak boleh minum minuman keras, pengendalian indria, dan masih banyak lagi....

Mengapa mesti takut. Justru semua itu hanya ilusi. Kenikmatan semacam itu sifatnya sesaat. Banyak orang kaya, walaupun setiap akhir minggu berusaha melepas stres nya dengan makan makanan yang enak ataupun menginap di hotel berbintang dll, tetap merasakakn kekosongan di dalam dirinya. Beda halnya setelah menjalani spiritual dan membatasi indria akan kenikmatan duniawi. Justru yang kita dapatkan adalah kenikmatan jiwa, kebahagiaan dan ketenangan. Seperti apa yang penulis rasakan dibandingkan saat menjadi manajer dulunya. 

Kebahagiaan sejati tidak ada dimana-mana. Tidak ada di bar, di restoran, di mall ataupun ditempat manapun. Kebahagiaan sejati ada di dalam diri kita sendiri. Berada di dekatNya lah kebahagiaan itu. Jika kita sudah mampu mengendalikan diri dan berpasrah diri kepadaNya, kita akan menemukan beliau didalam diri kita sendiri.

Sebuah tugas yang suci menyimpan tanggungjawab yang sangat besar, sehingga diperlukan pribadi yang suci dan tangguh. Itu sebabnya orang-orang yang akan mengemban tugas ini akan melalui tahap penggemblengan yang luar biasa. Namun jangan takut. Saat kita lolos dalam ujian itu, percayalah.... Tuhan takkan membiarkan kita menderita. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang akan slalu melindungi kita. 

Jadi jangan hindari tugas ini. Laksanakan dengan penuh keiklhasan hati serta penuh kasih sayang kepadaNya. Matur suksma


Sumber: Jro mangku gede Komang Veni Damayanti

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image