Kabardewata.com

Opini

Garam Berlebih dan Kebiasaan Merokok Pemicu Utama Hypertensi, Berikut Penjelasannya

Kategori Opini, June 05, 2015, Dilihat sebanyak 115 kali, Post oleh Putri Sukawening


Konsumsi garam secara berlebih dan kebiasaan merokok dikatakan pemicu utama dari faktor hypertensi. Apalagi terdapat pergeseran pola makan, yang mengarah kepada makanan cepat saji dan diawetkan mengandung garam yang tinggi, lemak jenuh dan rendah serat. Selain itu makanan sepertu kerupuk, kecap, sambal botol juga banyak mengandung garam. Hal tersebut diungkapkan dalam acara 11th Asia Pacific Congress Of Hypertension di Nusa Dua.

Acara yang bertujuan sebagai sharing ilmu antar 21 negara di Asia Pasific yang dihadiri oleh1500 partisipan. Dengan pembicaranya dari 16 negara dengan agenda membahas 29 simposium dan mengumpulkan penelitian 170‎ dari 21 negara di Asia Pasific‎. Adalah untuk berupaya mengendalikan hypertensi dan mencegah komplikasi dari hypertensi. Dimana ‎keberhasilan pengendalian hypertensi akan menurunkan komplikasi stroke penyakit jantung, gangguan ginjal‎ dan penyakit berat lainnya.

Salah satu pakar hypertensi sekaligus salah satu pendiri Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dr.Arieska Ann Soenarta ‎mengatakan, garam merupakan faktor yang memacu tekanan darah tinggi‎. Sebab garam menyebabkan timbulnya rangsangan sistem, yang membuat tekanan darah tinggi dan menyerap cairan. Sehingga volume cairan di dalam tubuh meningkat dan merangsang suatu sistem sehingga membuat kekakuan pembuluh darah serta memacu hypertensi. 

"Garam adalah faktor yang mempengaruhi hypertensi dan kelainan kardiovaskuler.‎ Sehingga hal tersebut perlu dicegah sedini mungkin, sebab dari hypertensi inilah terjadi komplikasi penyakit kronis. Bukannya malah mengobati setelah terjangkit hypertensi,"ujar Arieska.

Lanjut Arieska, kebiasaan hidup dengan mengontrol makan yang mengandung garam, tentunya akan berdampak menurunkan resiko hypertensi dan penyakit kronis lainnya, seperti ‎jantung koroner, setroke, diabetes dan sebagainya.

Kendati hal tersebut bisa ditekan dengan obat, tapi harus dipicu dengan pola hidup yang sehat. Baik rutin berolah raga, diet, banyak mengkonsumsi sayuran berserat, mengurangi konsumsi garam, menghentikan kebiasaan merokok.

"Maksimal 1 sendok teh saja perhari untuk mengkonsumsi total kandungan makanan yang bergaram. Jika ada sudah memiliki hypertensi, cukup setengah sendok teh dikonsumsi tiap hari‎. ‎Pemakaian garam tidak boleh seenaknya saja, karena dapat memicu penyakit kronis lainnya,"‎terang Arieska.

Sementara itu Prof Jose‎ Roesman selaku pembicara di bidang hipertensi juga menerangkan, hypertensi adalah penyebab dari penyakit stroke, komplikasi, jantung,diabetes dan penyakit berat lainnya. Dimana‎ hypertensi adalah musuh bebuyutan dari semua penyakit berat, sebab pemicu penyakit berat adalah faktor dari hypertensi.‎ Selain itu kebiasaan merokok juga dapat memacu hypertensi, karena mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan berdampak gangguan sistem pada tubuh manusia.

"Dari 100 persen laki-laki di Indonesia, 66 persennya adalah perokok dan rankingnya menembus no 2 di dunia. Bahkan jika dibandingkan negara di Asean, 51 persen masyarakat Indonesia mendominasi jumlah perokoknya,"beber Prof Jose.

Guna mencegah terjangkitnya hypertensi, tentunya kebiasaan merokok masyarakat perlu dikontrol‎. Selain itu juga faktor kegemukan juga sangat berpengaruh terhadap hypertensi. Tentunya kebiasaan hidup sehat harus di polakan agar tetap terjaga, baik melalui diet maupun menjaga konsumsi makanan.

"‎Konsumsi garam dapur tentunya harus lebih rendah dari 6 gram perhari, bila ingin menghindari hypertensi. Selain itu seharusnya pedagang makanan yang mengandung lemak jenuh dan makanan yang mengandung garam, harus mencantumkan kadar keasinan makanannya. Agar masyarakat mengetahui kadar garam yang mereka konsumsi,"tegas Prof Jose.

Lanjut Prof Jose, 90 persen hypertensi memang dipengaruhi oleh faktor keturunan (primer). Dimana dari 100 persen masyarakat, 30 persennya dipastikan orang dewasa sudah terkena hypertensi. Namun khusus untuk hypertensi yang diidap dibawah umur 25 tahun, hal tersebut diakibatkan oleh faktor sekunder atau penyakit.‎

"Sembilan dari sepuluh orang dipengaruhi oleh faktor genetik untuk terkena hypertensi. Umur diatas 35 tahun adalah umur yang paling tinggi terkena hypertensi, karena dipengaruhi umur‎ dan faktor lainnya. Setelah berumur lebih dari 60 tahun, baru hypertensi bisa menurun. Kecuali wanita yang akan terus meninggi hypertensinya jika beranjak pertambahan umur,"jelas Prof Jose.

 


Sumber: Kabardewata.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image