Penantian Cinta Di Malam Ke Tujuh (Part 1)

Kategori Cerita Bersambung, February 29, 2016, Dilihat sebanyak 124 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Di malam itu, di tempat Sam kost. Lagi sedang ada sebuah acara bakar-bakar ikan oleh seluruh penghuni kost tersebut. Dalam rangka menyambut malam pergantian tahun. Mengetahui adanya acara tersebut, Sam menjadikan acara itu sebagai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya pada Alin, seorang gadis yang dia idamkan untuk menjadi pacarnya. Sam pun akhirnya ikut serta dalam acara tersebut.

“Hei Dek Alin,” Sapa Sam pada Alin. Dengan mendekati Alin yang lagi duduk, dan lalu ia pun mengambil kursi kemudian duduk berdampingan dengan Alin. “Hei juga Kak,” Sahut Alin. Dengan raut wajah terlihat tersipu malu, karena mata sebagian penghuni kost tertuju padanya.

“Bagaimana kabarnya Dek?” Tanya Sam. Dengan matanya yang terlihat tidak pernah berkedip memandangi wajah Alin.
“Ehem, Alin dih!” Sahut sebagian teman kostnya yang lagi membakar ikan.
“Baik Kak!” Jawab Alin. Dengan raut wajah tersipu malu.

“Boleh nggak aku ajak ngobrol Dek sebentar?” Tanya Sam. Dengan suara terdengar membisik.
“Mau ngobrol apa Kak?” Alin bertanya balik.
“Ada deh, sebentar kamu mengetahui sendiri Dek.” Jawab Sam. Dengan matanya yang tidak pernah terlihat berkedip memandangi wajah Alin. Alin menjadi tersipu malu oleh pandangan Sam yang seolah tidak pernah berkedip memandangi wajahnya. “Iya deh Kak, aku bersedia.” Ujar Alin. Dengan wajah terlihat tersipu malu.
“Tapi, ngobrolnya bisa empat mata kan Dek?” Tanya Sam.

Namun Alin tidak langsung menjawabnya, malah ia terlihat terdiam sejenak. Lalu kemudian baru Alin berucap, “Iya deh Kak. Bisa!” Jawab Alin. Tidak lama setelah itu, Sam pun lalu kemudian mengajak Alin, “Kalau begitu Dek, ayolah kita ke atas sekarang!” Seru Sam. Dengan terlihat mengarahkan telunjuknya ke lantai 2. Alin terlihat menganggutkan kepalanya, “Oke Kak.” Ucap Alin. Sambil bergegas meninggalkan tempat duduknya. Namun Alin terlebih dahulu meminta izin kepada teman-teman kostnya yang sedang membakar ikan.

“Hei teman-teman, aku izin ke atas dulu ya sebentar!” Sahut Alin.
“Mau ngapain Lin?” Tanya salah satu temannya.
“Ada deh,” Jawab Ali. Dengan wajah terlihat tersipu malu.
“Iya deh Lin,” Ucap dari temannya yang tadi.
“Ehem, mulai main rahasia-rahasian nih,” Sahut seluruh temannya.

Alin pun terlihat sangat tersipu malu. Namun kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut, untuk menghampiri Sam yang telah menunggunya terlebih dahulu di lantai 2. Tidak berselang lama, sampailah Alin di lantai 2, tempat Sam berdiri saat menunggunya. “Mau ngomong apa Kak?” Tanya Alin.
“Sebenarnya begini Dek,” Ucap Sam. Dengan wajahnya terlihat bingung.
“Sebenarnya apa Kak?” Tanya Alin. Dengan terlihat penasaran.
“Jujur akhir-akhir ini, aku selalu memperhatikanmu Dek. Namun mengapa? di setiap aku memperhatikanmu, membuat perasaanku tertarik padamu Dek,” Ucap Sam.
“Boleh nggak Dek, kalau aku menjadi pacarmu?” Tanya Sam menyambung ucapannya. Dengan tatapan mata begitu serius.
Alin pun tidak langsung menjawabnya. Namun Alin justru terdiam lama, seolah berusaha menormalkan detakan jantungnya akibat rayuan yang dilontarkan Sam padanya.

“Hei kalian berdua yang di atas, silahkan turun. Ikan bakar semuanya sudah matang, nanti kalian berdua tidak mendapatkan bagian!” Seru mbak Yuli. Dengan berteriak dari lantai 1.
“Iya Mbak Yul. Sebantar lagi kami berdua turun,” Sahut Sam, yang sedang menunggu jawaban Alin.
“Mungkin Kak, alangkah baiknya kalau kita berdua berteman saja dulu. Soalnya aku kan belum terlalu mengenal pribadi Kakak seperti apa!” Jawab Alin.
“Jadi maunya Adek berapa lama waktunya untuk tahap perkenalan?” Tanya Sam. Dengan raut wajah terlihat kecewa.
“Sebulan Kak!” Jawab Alin.
“Tidak bisakah waktunya sedikit dipercepat Dek?” Tanya Sam.
Alin pun terdiam sejenak.

“Bagaimana kalau seminggu Kak?” Tanya Alin.
“Iya, oke Dek,” jawab Sam.
“Nanti di malam ketujuh, baru aku memberikan jawaban balasan ya Kak!” Seru Alin.
“Namun apakah malam ini, sudah terhitung Dek?” Tanya Sam. Dengan maksud memastikan.
“Iya Kak, malam ini sudah mulai terhitung 1 malam,” jawab Alin.
“Oh ya Kak, ayo kita turun ke bawah, soalnya Mbak Yuli dan teman-teman sudah sejak tadi menunggu kita berdua.” Seru Alin.

Mereka berdua terlihat berlalu meninggalkan tempat tadi mereka ngobrol. Namun saat mereka baru berada di tangga di dekat mbak Yuli, dan kawan-kawan berada. Mereka berdua pun langsung mendapat sorakan, “Ehem, ehem, ada yang lagi berbahagia nih…” Sorak mbak Yuli dan kawan-kawan. Mereka berdua pun hanya tersenyum simpul, dengan wajah terlihat tersipu. “Itu di sana ikan bakar kalian berdua!” Seru mbak Yuli. Dengan mengarahkan telunjuknya di tempat ikan bakar tersebut berada. Sam dan Alin pun menuju ke tempat ikan bakar tersebut. Namun saat Sam dan Alin sampai di tempat itu, kedua terlihat kaget, karena ikan bakar tinggal tersisa 1 ekor. Sam dan Alin pun terlihat saling berpandangan.

“Kenapa kalian berdua tinggal berdiri saja di situ?” Tanya mbak Yuli. Sam dan Alin pun terdiam sejenak, dengan raut wajahnya yang kebingungan.
“Soalnya ikan bakarnya tersisa 1 ekor Mbak Yul?” Sahut mereka berdua. Dengan secara bersamaan.
Atas kejadian yang tidak disangka-sangka tersebut, sontak pun Sam dan Alin kembali lagi mendapat sorakan, “Ehem, kompak banget nih!” Sorakan dari mbak Yuli, dan kawan-kawan.

Akhirnya Sam dan Alin hanya tersenyum simpul dengan wajah terlihat tersipu malu atas kejadian yang tidak mereka sengaja tersebut. Tidak lama berselang, terdengar suara petasan yang telah disulut oleh orang-orang yang berada di sekitar kostnya Sam. Dengan berbunyi satu per satu dan terlihat kembang apinya yang berwarna-warni menghiasi langit angkasa, yang menandakan bahwa pergantian tahun telah tiba. Happy New Year!

Mentari menyingsing di pagi itu, dengan seberkas sinarnya menghampiri sam melalui sela jendela kostnya yang terbuka, dan membuat Sam terbangun dari tidurnya. Sam pun kemudian menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai mandi, dia kemudian sarapan. “Tok, tok, tok,” Suara pintu terdengar diketuk. Sam pun berdiri kemudian membuka pintunya. Dilihatnya Alin yang sedang berdiri, orang yang tadi mengetuk pintu kamarnya.

“Silahkan masuk Dek!” Seru Sam. Dengan mempersilahkan Alin masuk ke kamarnya.
“Maaf Kak di sini saja. Kebetulan lagi buru-buru nih Kak, soalnya aku takut nanti ketinggalan pesawat,” Ucap Alin. “Memangnya mau ke mana Dek?” Tanya Sam.
“Aku mau balik ke kampungku Kak,” Jawab Alin.
“Dalam rangka apa Dek?” Tanya balik Sam.
“Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan bersama, kata orangtuaku! Makanya aku disuruh pulang dulu,” Ucap Alin. “Oh ya Kak, aku permisi dulu!” Seru Alin.
“Iya hati-hati Dek.” Ucap Sam.

Mendengar suara keramaian di ruangan teras kostnya, Sam terlihat menghampiri sumber keramaian tersebut. Rupanya teman-temannya yang lagi sedang bermain domino.
“Hei bro,” Sapa Udin. Merupakan salah satu temannya yang sedang bermain domino. “Iya bro,” Sahut Sam.
“Kenapa bro, kok kelihatan murung?” Tanya Udin.
“Nggak ada apa-apa bro,” Jawab Sam. Dengan berusaha menutupi perasaannya yang lagi galau sebab nomornya Alin sudah tidak aktif.
Tak lama berselang mbak Yuli muncul, karena ingin membeli sebungkus mie instan dan sebutir telur di kantin kost di dekat Sam dan teman-temannya yang lagi bermain domino.

“Ehemm, ada orang yang lagi galau nih,” Sahut mbak Yuli. Dengan matanya melirik ke arah Sam yang sedang duduk.
“Siapa yang galau Mbak Yul?” Tanya Udin, pada mbak Yuli.
“Itu, yang lagi duduk di dekatmu Din!” Jawab mbak Yuli. Dengan mengarahkan penglihatannya ke arah Sam.
“Oh, hehehe. Katanya nggak ada apa-apa.” Ucap Udin. Dengan tertawa sambil jari telunjuknya menyolek pinggang Sam.
Sam pun hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya.

“Siapa yang nggak ada apa-apa Din?” Tanya mbak Yuli. Dengan maksud mempertegas ucapan si Udin.
“Ini Mbak, orang yang di dekatku!” Jawab Udin. Dengan matanya melirik Sam yang duduk di sampingnya.
“Hahaha..” Mbak Yuli, dan teman main domino si Udin, tertawa.
Lagi-lagi sam pun hanya mampu tertunduk, dengan wajah tersipu malu. Terlihat Sam seolah ingin menyembunyikan wajahnya di bawah kursi yang sedang ia duduki.

Di pagi itu Sam yang sedang mandi dengan terdengar deras air bersimbah di dalam kamar mandinya. Rupanya Sam sangat terburu-buru mandi, karena hari itu ia akan mengikuti ujian hari pertama di kampusnya. Sebab tadi Sam agak terlambat bangun dari waktu yang telah dia tentukan sebelumnya. Setelah mandi Sam kemudian sarapan agar nanti saat dia mengikuti proses ujian perutnya tidak keroncongan akibat lapar. Sam bergegas meninggalkan kamarnya. Di saat Sam berdiri di depan kamarnya, terlihat mbak Yuli lagi sedang menjemur pakaian di ruangan teras kostnya. Sam pun mulai melangkah dengan meninggalkan kamarnya.

“Hei mau ke mana Sam, kok kelihatannya terburu-buru?” Sahut mbak Yuli.
“Oh iya mau ke kampus Mbak, soalnya hari ini ada pelaksanaan ujian di kampusku,” Jawab Sam. Dengan sedikit memperlambat langkah kakinya, hingga terhenti sejenak.
“Oh, ya. Hati-hati Sam. Semoga ujiannya berjalan lancar!” Seru mbak Yuli.
“Iya Mbak Yul. Terima kasih atas doanya.” Ucap Sam. Dengan memulai kembali melangkahkan kakinya, terlihat mempercepat langkahnya karena waktu pelakasanaan ujiannya tidak lama lagi akan dimulai.

Tidak lama sam pun sampai di kampusnya, karena jarak dari kostnya menuju kampusnya berkisar 100 meter. Sam pun kemudian memasuki ruangan pelaksanaan ujian yang akan dia ikuti, dengan duduk di kursi yang telah di disediakan dan ditentukan oleh panitia pelaksana ujian tersebut. Walaupun Sam yang hatinya lagi galau, sebab sejak Alin pulang ke kampungnya, nomor teleponnya sudah tidak dapat tersambung. Namun Sam tetap berusaha untuk fokus menghadapi soal-soal ujian yang akan diterimanya nanti di ruangan ujian tersebut, karena baginya pendidikan dan cinta adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa dia pisahkan.

Setibanya Sam sepulang dari kampusnya mengikuti ujian, terlihat mbak Yuli sedang duduk di kantin kost yang berada ruangan teras. “Hei Sam, bagaimana ujiannya tadi?” Sapa mbak Yuli.
“Ya, lumayan lancar saat menjawab soal-soalnya Mbak Yul,” Sahut Sam. Lalu mengambil kursi yang berada tidak jauh dari tempat mbak Yuli duduk, dan kemudian dia pun duduk.
“Oh, ya Mbak. Aku mau tanya nih!” Seru Sam. Dengan wajah terisipu malu.
“Mau tanya apa Sam?” Ucap mbak Yuli.
“Ada nggak nomornya Alin yang lain yang bisa tersambung mbak Yul, soalnya nomornya sudah tidak aktif?” Tanya Sam.
“Ehem, oh rupanya ada yang lagi merana,” Ucap mbak Yuli. Dengan terlihat senyum simpul. Sam terlihat tersipu malu.

“Oh, tidak ada Sam. Nomornya yang ada sama Mbak juga masih itu,” Sambung mbak Yuli.
“Oh, kirain ada Mbak Yul,” Ucap Sam. “Oh, ya Mbak Yul, ngomong-ngomong aku permisi dulu mau ganti pakaian.” Sambung Sam. “Iya silahankan Sam!” Seru mbak Yuli.
“Oh, ya sebentar kita ngobrol-ngobrol lagi tentang Alin ya.” Sambung mbak Yuli.
“Hehehe ya Mbak,” Ucap Sam. Dengan wajah tersipu malu, dan Sam pun berlalu menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

Seperti pada malam sebelumnya, kembali lagi terdengar keramaian dari ruangan teras kostnya. Sam pun kembali ikut di keramaian tersebut. Dengan berlalu meninggalkan kamarnya menuju ke ruangan teras kostnya, dilihatnya mbak Yuli yang lagi sedang duduk bersama Udin di keramaian permainan domino, seperti pada malam sebelumnya.

“Hei… Sam, ke sini!” Seru mbak Yul. Dengan mengarahkan tangannya ke kursi kosong yang ada di dekatnya.
“Iya Mbak Yul” Sahut Sam. Dengan menghampiri mbak Yuli dan lalu kemudian dia duduk di kursi tersebut.
“Bagaimana Sam, kita ngobrol-ngobrol tentang Ain sebagaimana ajakanku tadi siang?” Tanya mbak Yuli.
“Hehehe Mbak,” Sam tertawa. Dengan wajah tersipu malu.
“Oh, ya bro. Mau nggak main domino?” Tanya Udin. Dengan memotong pembicaraan.
“Iya terima kasih Din. Aku nonton saja kalian main,” Ucap Sam. Sambil dengan mengangkat kepalanya melihat wajah Udin yang lagi mengajaknya bicara.
“Oh, kirain mau ikut main, biar kamu ganti aku!” Seru Udin.
“Iya terima kasih atas tawarannya Din.” Ucap Sam.

“Ngomong-ngomong nih, bagaimana komunikasinya dengan Alin bro?” Tanya Udin.
“Ah, nomornya sudah tidak aktif Din,” Jawab Sam.
“Ah, masa kayak gitu bro?” Ucap Udin. Dengan terlihat tidak percaya.
“Serius Din!” Seru Sam. Dengan terlihat berusaha menyakinkan Udin.
“Coba kamu hubungi dia lagi bro.” Seru Udin. Dengan terlihat masih tidak percaya.
Sam pun kemudian menggerakkan tanganya dengan mengambil hp-nya yang berada di dalam saku celananya, dan lalu kemudian menghubungi nomornya Alin.

“Ini silahkan dengarkan sendiri Din.” Seru Sam. Dengan menyodorkan hp-nya tersebut pada Udin, dengan di saat yang sama nomornya di hp-nya tersebut sedang terhubung ke nomor Alin namun tidak aktif, Udin pun kemudian mengambil hp tersebut dari tangan Sam. Namun Udin yang terkadang usil, dia pun kemudian mengeraskan suara panggilan dari hp tersebut. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi!”

Nada suara yang berasal dari hp-nya Sam yang diperdengarkan oleh Udin di saat itu. Sontak pun semua yang berada saat itu di ruangan teras menjadi tertawa oleh ulahnya Udin. Tidak terkecuali pula mbak Yuli yang merupakan tantenya Alin. Sam saat itu hanya terlihat mengeleng-gelengkan kepala, dan terlihat wajahnya tersipu malu.

Bersambung...


Sumber: cerpenmu

Like & Share berita ini

loading...

Tulis komentar anda.


You can use the following HTML tags: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image


KOMENTAR
HEADLINES POPULER BISNIS BALI


POST cerita-bersambung LAINNYA
Cerita Bersambung

Tak Ada Guna

     01 Mar 2016   88