Kabardewata.com

I Gusti Agung Maruti / Dalem Agung Dimade

Kategori , July 03, 2015, Dilihat sebanyak 646 kali, Post oleh Rusadi Nata


Pemerintahan kerajaan Bali selama kekuasaan I Gusti Agung Maruti menyebabkan banyak punggawa ataupun Manca di seluruh bagian wilayah Bali ingin melepaskan diri dari pemerintahan yang berpusat di Gelgel dan membentuk kerajaan sendiri-sendiri. Setelah beberapa kali mengadakan musyawarah di Sidemen, Anglurah Singharsa atas nama Dewa Agung Jambe mengirim Surat Undangan ke pada I Gusti Anglurah Panji di Denbukit dan Anglurah Nambangan di Badung. Juga ke semua Punggawa sampai Manca yang masih setia untuk hadir di Puri Sidemen membicarakan keadaan Bali yang dalam bahaya perpecahan. I Gusti Anglurah Panji yang memang sudah paham isi surat segera memerintahkan Panglima Perang Ki Tamblang Sampun ke Sidemen untuk mewakili beliau.Pertemuan di Puri Sidemen di pimpin oleh Dewa Agung Jambe, Anglurah Singharsa dan Pedanda Wayan Buruan. Mereka semua sepakat dengan tekad bulat untuk menghancurkan kekuasaan I Gusti Agung Maruti. Dewa Agung Jambe memberikan surat kepada Ki Tamblang Sampun supaya disampaikan kepada I Gusti Anglurah Panji di Den Bukit yang isinya meminta bantuan menggempur I Gusti Agung Maruti yang menguasai Istana Gelgel.

Gabungan pasukan koalisi Bali terdiri dari laskar Taruna Gowak dari Den Bukit dipimpin oleh Ki Tamblang Sampun dan I Gusti Made Batan bermarkas di desa Panasan, lengkap dengan sarwa senjata keris, tombak, bedil sebagian dengan berkuda. Juga tidak ketinggalan bunyi-bunyian perang, kendang bende, cengceng. Pada waktu yang sudah ditentukan mereka mulai menyerang Istana Gelgel dari arah Barat Laut.Pasukan dari Badung dibawah pimpinan I Gusti Jambe Pule melalui arah pantai menyerang dari arah Selatan Istana lengkap dengan garangnya. Sedangkan laskar Singaharsa menyerang dari arah Timur Laut dengan terlebih dahulu menundukkan desa-desa sekitar Gelgel. I Gusti Agung Maruti segera memerintahkan pasukan untuk bertahan. Sulit untuk menceritakan dahsyatnya pertempuran, saling serang, saling serbu sehingga banyak jatuh korban nyawa. Pasukan Gelgel dibawah pimpinan I Gusti Agung Maruti sedang sengitnya menggempur pasukan Badung di sebelah selatan Gelgel mengamuk sehingga pasukan Badung banyak jatuh korban sehingga I Gusti Jambe Pule terpaksa mundur. Pasukan Gelgel dengan orang-orang Jumpai sangat kuat terus mengepung sehingga I Gusti Jambe Pule dari Badung akhirnya tewas.Setelah itu pasukan Gelgel muncul dibawah pimpinan Ki Padangkerta yang mengejar laskar Taruna Gowak dari Den Bukit yang lari tunggang langgang. Seorang pimpinan regu Teruna Gowak terbunuh sehingga pasukan Den Bukit terus mundur kembali ke desa Panasan. (Rakyat desa itu merasa panas dengan adanya laskar Den Bukit, maka desa dinamakan Panasan)Dengan mundurnya pasukan Badung dan Den Bukit maka Dalem Maruti Di Made tetap menguasai Istana Gelgel. Rakyat menganggap I Gusti Agung Maruti sudah menang dan rakyat berbondong-bondong kembali ke Istana Gelgel mendukung kedudukan I Gusti Agung Maruti. Mendengar berita bahwa I Gusti Agung Maruti masih tetap bercokol di Istana Gelgel membuat I Gusti Anglurah Panji sangat kecewa dan marah. Segera memerintahkan menyusun kembali pasukannya dan segera melakukan penyerangan kembali langsung dibawah Panglima Perang I Gusti Tamblang dan I Gusti Made Batan dengan tambahan persenjataan bedil. Penyerangan kembali dilancarkan sesuai perintah I Gusti Anglurah Panji dengan turunnya I Gusti Tamblang Sampun ke medan pertempuran. I Gusti Tamblang langsung berhadapan dengan Panglima Perang Gelgel, Ki Dukut Kerta. Perang tanding orang per orang berkecamuk dengan dahsyat antar jago silat, saling tebas saling tusuk. Keduanya sama berani dan tangguh. Selang berapa lama akhirnya Ki Tamblang mengeluarkan ajiannya dan dapat menipu Ki Dukut Kerta dengan gerakan yang tidak bisa ditangkap oleh penglihatan. Tiba-tiba Ki Dukut Kerta roboh oleh senjata di tangan Panglima Perang Teruna Goawak Ki Tamblang Sampun. Seketika itu pasukan Gelgel lari tunggang langgang tak tentu arah menyelamatkan diri karena merasa ngeri dan ketakutan Setelah itu pasukan Anglurah Singharsa membuat ranjau di sekitar Istana Gelgel. Sedangkan laskar Dewa Agung Jambe menggempur pasukan pengawal I Gusti Agung Maruti yang masih berada di dalam Istana Gelgel dan tidak mau menyerah. Pasukan Den Bukit juga ikut menggempur Istana Gelgel. Kembali terjadi pertempuran sengit kacau balau tidak jelas kawan dan lawan, sehingga banyak rakyat yang jadi korban terbunuh didalam istana. Orang berlarian cerai berai keluar istana, bahkan keluar kota Gelgel. Dalam keadaan hiruk pikuk, I Gusti Agung Maruti dapat lolos keluar istana dan melarikan diri ke arah Barat ditemani Kyai Kidul dan Ki Pasek karena sudah berjanji sehidup semati. Namun terus dikejar oleh pasukan Dewa Agung Jambe dan pasukan Anglurah Singharsa sampai di Jimbaran. Di Jimbaran disambut oleh pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Ida Wayan Petung Gading yang merupakan kelahiran Gelgel, namun menetap di Jimbaran.

Kyayi Agung Dimade atau I Gusti Agung Maruti berputra empat orang, dua orang pria: I Gusti Putu Agung, I Gusti Agung Made Agung, dan dua orang wanita: I Gusti Agung Ayu Sasih kawin dengan seorang brahmana Geriya Kutuh Kamasan, adiknya ikut ke Jimbaran, bernama I Gusti Agung Ayu Ratih. I Gusti Agung diam di Jimbaran bersama I Gusti Ler Pacekan putra Kyayi Panida. Kemudian keris Ki Sekar Gadung (pusaka I Gusti Agung) diambil oleh I Gusti Ler Pacekan dengan tipu muslihat, akhirnya I Gusti Agung mengabdikan diri di Badung pada I Gusti Tegeh Kori, tetapi ditolak disuruh mengabdi pada Pangeran Kapal. I Gusti Agung langsung ke Kapal diiringkan oleh I Melang seorang abdi kepercayaan I Gusti Tegeh Kori, dan bersama-sama mengabdi di sana. Berkat tipu daya I Melang, timbul peperangan antara Kapal dan Buringkit, dengan alasan putri Buringkit dipermainkan dengan seekor kuda oleh Kyayi Kapal, Kyayi Kapal dikalahkan oleh Buringkit yang dibantu oleh I Gusti Ler Pacekan dengan keris Ki Sekar Gadung. I Gusti Agung kembali lagi dari Kapal ke Jimbaran. Bertapa di Goa Gong memperoleh keris Ki Bintang Kukus. Kemudian I Gusti Agung menyerang I Gusti Ler Pacekan di Kapal. I Gusti Ler Pacekan dapat dibunuh oleh I Gusti Agung keris Ki Sekar Gadung kembali ke tangan I Gusti Agung, dan kembali ke desa Kapal. Kemudian I Gusti Made Agung menetap di Kapal. I Gusti Agung Putu Agung kembali ke Jimbaran. Bandesa Gede Miber ikut ke Jimbaran bersama pengiring-pengiringnya semua. Lalu Bandesa Gede Miber disuruh ke desa Rangkes. Anak- anaknya yang masih di Jimbaran diberikan tugas-tugas khusus. I Gusti Agung Putu pindah dari Jimbaran ke Cawurangka, dan selanjutnya ke desa Keramas - aka 1672 (1750 M). Istananya di Jimbaran diberikan kepada Bendesa Salahin.

I Gusti Agung Putu Agung menata Desa Keramas, dengan menguasakan kepada petugas- petugas yang ditunjuknya membentuk desa- desa di sekitarnya. Keturunan Bendesa Gede Miber: Bendesa Kedeh ditetapkan oleh I Gusti Agung Putu Agung sebagai pangemong pura Masceti turun- temurun. Sedangkan I Sukra di Rangkes dilantik oleh I Gusti Agung Made Agung dengan nama - Bendesa Gde Gumyar. I Gusti Agung Made Agung berkuasa di Kapal, semua desa-desa di sekitarnya dapat dikuasai. I Gusti Agung Made Agung merelakan adiknya I Gusti Ayu Ratih menjadi istri Pedanda Wanasara di Tabanan, I Gusti Agung Putu Agung salah paham dan membunuh Pedanda Wanasara, sebelum wafat mengutuk I Gusti Agung Made Agung. I Gusti Agung Putu Agung juga terkutuk oleh Pedanda Batulumbang yang dibunuh di Cawu Rangke dahulu. Terjadi percekcokan antara Keramas dengan Serongga, tetapi kemudian berbaik kembali, hingga banyak rakyat Keramas pindah ke Medahan. I Gusti Agung Putu Agung berputra dua orang, yaitu I Gusti Agung Maruti Katrini dan I Gusti Agung Rai, pindah ke Medahan, semua mempunyai keturunan. I Gusti Agung Made Agung berputra I Gusti Agung Blangbangan yang banyak keturunannya. I Dewa Manggis (Gianyar) menguasai daerah-daerah/ desa-desa sebelah timur kekuasaan Mengwi sampai dengan daerah I Gusti Gede Keramas.

 

Sebelumnya

 

 

 

Sumber: pusakka.blogdetik


Sumber: Kabardewata.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image