Kabardewata.com

Sosial Budaya

Bupati Tabanan Merespon Fenomena Kesurupan Dampak Dari Upaya Rekor MURI

Kategori Sosial Budaya, August 24, 2018, Dilihat sebanyak 95 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Bupati Tabanan Eka Wiryastuti sudah merespon mengenai fenomena kerauhan para siswi di beberapa sekolah.

Dirinya mengapresiasi semangat para penari dan menyarankan malukat bagi para penari yang masih mengalami kerauhan.

Bupati Eka mengatakan, kerauhan terjadi karena adanya gesekan unsur positif dan negatif.

Sebab, Tarian Rejang Sandat Ratu Segara bersifat persembahan ke hadapan penguasa Segara, dan memang harus sakral dan berfungsi sebagai pembersih unsur negatif.

Karenanya setelah menarikan tari kolosal ini, unsur negatif terganggu atas kehadiran unsur positif dan harus dimurnikan melalui panglukatan (pembersihan diri).

"Tarian ini memang dirancang agar sakral dan berfungsi membersihkan unsur negatif yang ada di dalam diri. Bisa saja ada unsur negatif, dan memang pada dasarnya mereka (yang kesurupan) ada kelainan (bebayian) atau ada unsur lainnya. Sehingga setelah menari, masuk unsur positif, dan menyebabkan unsur negatif itu terganggu dan terjadi gesekan antara unsur positif dengan unsur negatif,” jelasnya seperti rilis yang diterima Tribun Bali dari Humas Pemkab Tabanan, Selasa (21/8).

Dia menerangkan, bahwa energi negatif bawaan dari dalam diri tersebut memang sulit dilepaskan.

Sehingga harus melakukan panglukatan (pembersihan) di Pura Luhur Tanah Lot. Niscaya dengan malukat bisa menghindarkan diri dari unsur-unsur energi negatif.

"Itu (energi negatif) seperti magnet yang tidak bisa dilepas atau sulit dilepas, makanya kita harus malukat (setelah melakukan tarian). Karena tari ini adalah pengeruakan atau pembersihan. Jikalau memang dia sakit karena unsur bawaan ya Astungkara dibersihkan,” terangnya.

Bupati perempuan pertama di Bali ini menambahkan, mungkin juga mereka yang kerauhan memang ada bawaan unsur niskala, seperti kepingit, ataukah memang harus ngiring dan lainnya yang berhubungan dengan unsur niskala.

Sehingga dengan tidak langsung melalui Tari Rejang Sandat Ratu Segara ini para penari dibersihkan dari unsur-unsur negatif.

Bahkan sejauh hari sebelum dipilihnya penari, para penari dengan sukarela dan tidak ada unsur paksaan berpartisipasi dalam menarikan Tari Rejang Sandat Ratu Segara.

Dan sudah dijelaskan pula ini adalah tarian sakral dan bersifat pembersihan unsur-unsur negatif dan juga merupakan persembahan tulus ikhlas kepada penguasa segara (laut).

Sehingga kesurupan dan lain-lain tidak terbantahkan dan pasti terjadi.

"Mereka menari dengan sukarela, jadi ada keinginan, tidak ada unsur paksaan. Dan orang tuanya pun sadar, sampai ada orang tuanya bilang akan ajak anaknya mepamit ke Tanah Lot dan tidak ada masalah,” terang Eka.

Dan kedepan apabila masih ada penari yang masih sering kesurupan, Eka menyatakan siap membantu, sesuai dengan prosesi yang harus dijalankan.

Sudah tentu adanya persembahan ini tiada lain untuk tujuan yang baik, dan sudah tentu dari awal penggarapan hingga sebelum dipentaskan dan akan dipentaskan, ia mengaku selalu memohon kerahayuan, melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tanah Lot, baik pribadi maupun bersama penari.

"Dengan adanya kesurupan ini, memang diyakini tarian itu memang benar-benar sakral. Mengingat tarian ini nggak main-main, ke depan, kita harus sterilkan dahulu penari sebelum menarikan Rejang Sandat Ratu Segara untuk meminimalisir hal buruk yang akan terjadi,” tandas bupati asal Banjar Tegeh, Desa Angseri, Baturiti ini. 


Seperti diberitakan sebelumnya, Ni Putu Anisa Prema Anjani (16) tampak merunduk dengan tatapan kosong usai melaksanakan ritual guru piduka di Pura Luhur Tanah Lot, Tabanan, Selasa (21/8).

Anisa harus menggelar guru piduka akibat sering mengalami kerauhan dan mendengar nyanyian diiringi gamelan Nyi Roro Kidul setelah pementasan tari Rejang Sandat Ratu Segara di Tanah Lot, Sabtu (18/8) sore.


Anisa merupakan salah satu siswi kelas IX SMPN 4 Kediri yang menjadi penari Rejang Sandat Ratu Segara.

Pementasan tarian yang digagas Bupati Tabanan Eka Wiryastuti itu pun diwarnai kerauhan puluhan penari.

Tiga hari setelah pementasan yang diikuti 1.600 penari itu, Anisa dan juga sejumlah penari lainnya kembali mengalami kerauhan di sekolahnya, Selasa (21/8).

Puluhan penari lain dari sekolah lainnya juga mengalami hal serupa pada Senin (20/8).

Orangtua Anisa pun khawatir dengan kondisi ini, hingga meminta penggagas tarian sakral ini yakni Bupati Eka untuk bertanggung jawab.

“Semoga lain kali tidak terjadi lagi, ini menjadi pengalaman. Dan saya minta Buk Eka (Bupati Tabanan) bertanggung jawab. Karena saya ini orang miskin, apalagi saya harus nebusin buat banten, habis tabungan saya,” tegas ibu Anisa, Ni Ketut Sudarmi, saat dijumpai usai melaksanakan ritual guru piduka.

Menurutnya, jika tarian ini merupakan tarian sakral, seharusnya tidak boleh diumbar sembarangan. Tarian sakral dilaksanakan pada saat upacara keagamaan.

“Jika dilakukan saat upacara keagamaan, dari pemangku kan bisa menyiapakn sarana dan prasarana yang harus dilengkapi sehingga tidak terjadi hal seperti ini,” jelasnya.

Dikatakan Sudarmi, anaknya kerap mendengar bisikan-bisikan nyanyian dan gamelan seperti saat pementasan Tari Rejang Sandat Ratu Segara.

Bahkan, saat mengalami kerauhan di sekolah, anaknya kerap teriak-teriak histeris hingga meloncat.


Selain itu, Anisa juga kerap meminta untuk menari kembali di Pantai Tanah Lot.

“Anak saya kerap mendengar bisikan gamelan saat di rumah, bahkan di sekolah dia mengalami kerauhan. Dengan peristiwa ini, kami berharap agar tidak terulang kembali,” harap perempuan yang tinggal di Banjar Dukuh, Desa Nyambu, Kediri, Tabanan.

Kepala SMPN 4 Kediri, Dewa Nyoman Sarjana pun membenarkan adanya peristiwa kerauhan yang terjadi di sekolah.

Kerauhan dialami oleh siswi yang ikut dalam pementasan Tari Rejang Sandat Ratu Segara pada Sabtu sore.

“Ya ada kerauhan, dan sudah ditangani dengan nunas tirta wangsupadan ke Tanah Lot. Kami juga sudah ngaturan pejati di Padmasana sekolah. Kemudian siswi yang kerauhan kami perciki tirta dan saya suruh pulang agar tidak memengaruhi yang lainnya,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (21/8).

Sarjana menyebutkan siswi yang mengalami kerauhan sebanyak 5 orang. Namun, ia tak mengetahui pasti jumlahnya, sebab siswi yang kerauhan kemudian terpencar baik ada yang diajak pulang oleh orangtuannya dan sebagainnya.

“Info dari Wakasek saya ada lima orang yang kerauhan, mungkin sudah ada yang pulang dengan orang tuannya juga. Karena saat itu (terjadinya kerauhan) saya masih di tempat workshop,” katanya.

Dewa Sarjana menyebutkan, siswi yang mengikuti pementasan sebanyak 50 orang, dan justru usai pementasan di Tanah Lot tersebut para siswinya tidak mengalami kerauhan.

“Saat usai pentas masih aman-aman saja kok,” terangnya.

Menurut dia, karena aura yang sangat magis para siswi yang mengalami kerauhan mungkin disenangi.

“Ini mungkin menjadi pelajaran, kedepannya istilahnya perlu pengacep dan upakara yang lebih lengkap agar tidak terjadi hal seperti ini,” harapnya.

Masih Trauma

Sementara siswi kelas IX SMPN 3 Selemadeg Timur, Putu Mia Dewi Sri Astiti (14), yang sempat kerauhan pada Senin (20/8), mengaku masih trauma dengan peristiwa kerauhan yang dialaminya di sekolah.

Namun, kondisinya saat ini sudah mulai membaik dan biasa diajak mengobrol.

Sebelum dirinya kerauhan, Mia mengaku sempat melihat sosok wanita yang begitu cantik (ratu) mengenakan pakaian serba hijau sedang menari di depan kelasnya, dan sempat mengajaknya untuk ikut menari.

Namun, Mia tetap bertahan dan tidak mengikuti ajakan wanita cantik tersebut hingga tak sadarkan diri.

“Awalnya saya merasa pusing terus rasanya pengen nangis kemudian langsung tidak ingat,” ucapnya saat ditemui Tribun Bali di Banjar Tengah Desa Dalang, Selemadeg Timur, Selasa (21/8).

“Kemarin (saat kerauhan) yang saya lihat wanita yang sangat cantik di sekolah menggunakan pakaian seperti Ibu Bupati saat itu (mengenakan kebaya warna hijau), di depan kelas itu sekitar jam 11.00 Wita pas istirahat kedua di sekolah,” tuturnya.

Mia melanjutkan, ketika malam tiba ia kerap mengingat sosok wanita cantik tersebut sebelum tidurnya. Sayup-sayup suara gamelan juga kerap ia dengar sehingga membuatnya trauma.

“Pas mau tidur biasanya saya melihat wanita cantik lagi, bunyi gamelan juga dengar dikit-dikit,” ucapnya sembari mengingat-ingat peristiwa kerauhan yang dialaminya. 

Ayah Mia, I Made Suweji (44), mengaku sangat panik ketika melihat buah hatinya mengalami trance.

Saat kerauhan, sejumlah teman, guru dan kerabatnya pun mencoba untuk menenangkan Mia namun tak berhasil. Kekuatan Mia saat kerauhan melebih kekuatan beberapa orang dewasa.

“Pas liat anak saya kerauhan, saya sangat panik, wajar kami panik namanya orangtua. Saat kerauhan matanya terpejam tapi tangannya tetap menari,” ucap Suweji sembari menuturkan bahwa sempat khawatir saat sebelum pementasan sebab tarian ini disebut sakral.

Suweji pun menyatakan, jika kondisi anaknya masih mengalami kerauhan hingga lewat sampai selama tiga hari, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban kepada Bupati Eka.

“Kalau misalnya terjadi lagi (kerauhan) agar ditindaklanjuti secara serius oleh pengagas tarian ini. Yang saya khawatirkan psikologis anak saya nanti terganggu. Mungkin untuk penanganannya lebih serius turun ke bawah melihat anak yang mengalami kerauhan ini,” ujarnya.

Sementara Kepala SMPN 3 Selemadeg Timur, Putu Arka Bujangga.

menuturkan awalnya sebanyak 25 siswinya mengikuti tari kolosal yang sakral tersebut.

Usai pementasan, tujuh siswi di antaranya mengalami kerauhan di Tanah Lot. Kerauhan berlanjut di sekolah pada Senin (20/8) siang.

“Yang ikut 25 siswi, tapi yang kerauhan tujuh siswi. Tapi tujuh siswi ini malah kesurupan lagi ketika berada di sekolah. Seketika berteriak histeris saat sembahyang di pura sekolah," tuturnya saat mengantar para siswa menggelar persembahyangan atau ngaturan guru piduka di Pura Tanah Lot.

Pujangga mengaku merinding saat mendengar cerita dari siswi yang kerauhan tersebut. Pasalnya, siswi yang sempat kerauhan selalu mendengar gamelan dan nyayian Ratu Segara Nyi Roro Kidul seperti saat pementasan tarian kolosal ini.

“Kami yang juga merasa khawatir dengan keadaan siswa yang tidak ada hentinya kesurupan. Akhirnya berangkat ke Pura Luhur Tanah Lot untuk mepamit,” tandasnya.

Sebelumnya, Bupati Eka Tari Rejang Sandat Ratu Segara tersebut tercetus atas kepeduliannya terhadap seni dan budaya.

Ia berharap dengan tarian ini para generasi muda bisa lebih mencintai, menghargai dan menjaga seni dan budaya yang mereka miliki.

"Sehingga saya ingin menyuguhkan karya seni terbaik yang sakral di zaman yang moden ini," katanya.

Menurutnya, tarian tersebut merupakan persembahan bagi Ratu Pantai Selatan yang selama ini sudah melindungi seluruh umat.

"Ibu Ratu telah melindungi umat dan memberikan cinta kasih," sambungnya.

Sebelum dipentaskan, Bupati Eka pun melakukan persiapan berupa puasa dan matur piuning di sejumlah pura yang ada di kawasan Tanah Lot.

Dalam pementasan ini, ribuan penari menggunakan baju warna warna putih dan kamen dan selendang hijau. Sedang Bupati memakai kebaya hijau.

Berdasarkan mitos, Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan menyukai warna hijau. Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai ratu dari segala jin yang menguasai Laut Selatan.


 


Sumber: bali.tribunnews.com

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image
Berita Lainnya