Bali Rencanakan Desa Gerbangsadu Ber-Solar Cell

Kategori Sosial Budaya, May 26, 2016, Dilihat sebanyak 129 kali, Post oleh Admin Kabardewata


Pemerintah provinsi Bali merencanakan untuk membangun perangkat solar cell di beberapa desa yang memperoleh program Gerrakan Pembanguna  Desa Tepadu (Gerbangsadu/GSM) Mandara. Rencana tersebut merupakan tindaklanjut dari pencanangan Bali sebagai Center of Excellence Energi. Dimana sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Provinsi Bali sebagai lokasi proyek percontohan penggunaan energi baru dan terbarukan. Kementerian (ESDM) menargetkan Bali di tahun 2018 menjadi 100% wilayah yang menggunakan energi bersih, baru, dan terbarukan. Rencana tersebut disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika menerima audiensi PT. PLN (Persero) Distribusi Bali di Ruang Kerja Gubernur Bali, Denpasar, Rabu(25/5).

Pastika menyampaikan sistem solar cell tersebut nantinya akan meberikan pendapatan tambahan bagi desa. Pendapatan tambahan bagi desa ini berasal dari sisa listrik yang dijual ke PLN. Dampak lainnya, desa tersebut juga nantinya mampu untuk memberikan kontribusi dalam menciptakan energi terbarukan. “Kalau ada pendapatan tambahan untuk desa, justru itu akan mempercepat desa itu untuk maju yang nanti bisa dikelola oleh BUMDes dan juga desa itu mampu untuk mendukung Bali sebagai center of excelent energi terbarukan,” Ujar mantan Kapolda Bali yang juga mantan ketua tim investigasi bom Bali.

Menurut Pastika, di Bali banyak terdapat desa yang cocok untuk dijadikan sebagai tempat pemasangan solar cell, Belum lagi cukup banyak desa Gerbangsadu yang siap untuk dipasang solar cell, seperti di Karangasem dan Singaraja. Namun dalam pengembangan dan operasional perlu dukungan dari PLN untuk untuk membeli listrik yang nantinya akan dihasilkan oleh desa – desa Gerbangsadu tersebut. “Bali nanti akan menjadi Center of Excellence Energi Terbarukan, jadi saya berencana akan membangun sistem solar cell di beberapa desa penerima Gerbangsadu, minimal 10 desa saja yang masing – masing bisa menghasilkan 1MW,” jelas Pastika.

General Manager PT PLN Distribusi Bali, Sandika Aflianto mengaku siap untuk mendukung rencana yang akan dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Bali. PLN juga siap untuk membeli sisa kelebihan listrik yang nantinya dihasilkan oleh desa – desa tersebut dengan harga 20 sen per Kwh sesuai dengan peraturan yang ada saat ini. “PLN siap membeli sesuai harga yang telah ada dan sesuai ketentuan” kata Sandika Aflianto

Sandika Aflianto mengakui rencana pemerintah provinsi Bali merupakan langkah yang sangat bagus dan harus didukung. Mengingat selain untuk memenuhi kebutuhan listrik  bagi desa – desa miskin di Bali, rencana tersebut juga akan memberikan pendapatan baru bagi desa untuk memajukan desanya. 

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Bali, Suriadi Darmoko menilai rencana pemerintah provinsi Bali untuk mengembangkan solar cell  guna  memenuhi kebutuhan energi di Bali dinilai hanya sebatas wacana politik. Jika memang serius mengembangkan energi solar cell  untuk mewujudkan Bali sebagai green provinsi maka harus ada kebijakan politik. Keseriusan dalam pengembangan energi Surya sebagai energi terbarukan juga harus ditunjukkan dengan adanya pengalokasian penganggaran dalam pengembangan energi matahari. “Pemerintah daerah tidak serius, kalau ada wacana, mestinya ada anggarannya, pertanyaanya dari wacana itu, apakah sudah ada anggaranya” ungkap Suriadi Darmoko.

Suriadi mengakui hingga saat ini belum pernah mendengar adanya implementasi yang jelas terkait pengembangan energi solar cell . Kalau terdapat keseriusan untuk mengimplementasikan tentunya harus diawali dengan adanya inisiatif. Inisiatif tentunya harus dari pemerintah daerah Bali tanpa harus menunggu atau tergantung dari proyek pemerintah pusat. Seperti biasanya pengembangan yang dilakukan berdasarkan proyek pusat di daerah cenderung tidak berkesinambungan. “saya tahu hanya nunggu dari pusat dan beberapa proyek yg sudah ada bukan inisiatif daerah atau setidaknya yang saya tahu itu proyek pemerintah pusat  khususnya proyek kementerian ESDM” ujar Suriadi.

Suriadi menyampaikan bahwa tim ahli Walhi Bali pernah melakukan analisis terkait potensi energi surya di Bali. Dengan data luas pulau Bali mencapai 5.780 kilometer persegi;, dengan  asumsi 1% luas wilayah untuk bidang Solar panel  yaitu sekitar 57,8 kilometer persegi;. Dengan daya per- meter persegi; solar panel mencapai 150 W per jam. Maka untuk per- kilometer persegi; akan menjadi  150 x 1.000.000 = 150 MegaWatt. Jadi potensi daya dari 57,8 kilometer persegi; = 57,8 x 150 MW = 8670 Megawatt per jam. Selain itu  Intensitas sinar matahari cerah perhari di pulau tropis ini sekitar  4 sampai 8 jam. Tak perlu menganggap itu perlu pembebasan lahan . cukup dengan penggunaan solar panel pada atap-atap rumah,  kantor, kampus, sekolah, pasar, hotel, restoran, villa, tempat parkir hingga payung pantai, bisa dimanfaatkan dan dirancang dengan baik  untuk keperluan itu.

Sisi lain, daya dari panel surya bisa dengan mudah digandengkan dengan jaringan PLN.  Sehingga,  tidak perlu  aki/batere, kecuali jika ingin menggunakan untuk kontinyu siang malam dengan  tenaga matahari secara penuh. Hal Ini juga artinya  membuka lapangan kerja kejuruan dan administrasi,  juga promosi dan sosialisasi untuk  ribuan orang. Para tenaga kerja juga bisa bekerja di daerah masing-masing dan tidak perlu  berbondong-bondong  urbanisasi.

Suriadi menyebutkan kebutuhan listrik di Bali selama ini mendapat pasokan dari sejumlah pembangkit listrik yaikni : - Gilimanuk 130 MW,  Pemaron 90 MW, Pesanggaran 321 MW  dan suplai dari Jawa melalui kabel bawah laut sebesar 320 MW. Sedangkan kebutuhan pada beban puncak mencapai 734,8 MW. Jika potensi diandaikan potensi listrik tenaga solar cell  sebesar  8670 megawatt perjam dibagi dengan suplai dari pulau Jawa sebesar  320 MW  sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik Bali selama  27 jam. Artinya jika daya potensial perjam itu saja ditampung dg sistem penyimpanan yg memadai, sudah bisa melepaskan ketergantungan dari Jawa. “ Ada harapan yg melimpah. Bahkan baru dari 1% wilayah saja. Tak perlu merangsek hutan. Tak perlu mengotori nafas bumi” tegas Suriadi.(muliarta)


Sumber: redaksi

Like & Share berita ini

loading...

Tulis komentar anda.


You can use the following HTML tags: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>


CAPTCHA Image
Reload Image


KOMENTAR
HEADLINES POPULER BISNIS BALI


POST sosial LAINNYA