Kabardewata.com

Pariwisata

Nusantara Festival Siap Geber Batur Kintamani

Kategori Pariwisata, August 06, 2015, Dilihat sebanyak 196 kali, Post oleh Rusadi Nata


Pertama kalinya Yayasan Wisnu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bekerjasama dengan Bali Life Center, Komunitas Gigir Manuk, Masyarakat Adat Wingkang Ranu, Batur dan berbagai Organisasi, Komunitas, Pemerintah,  serta Masyarakat Adat akan menggelar Festival Nusantara di Batur Kintamani, Bangli. Festival dengan tema ‘Merayakan Peradaban Matahari’ ini digelar selama 10 hari mulai Sabtu (8/8) hingga Senin (17/8) mendatang yang berlokasi di sekitar objek wisata Toya Bungkah. 

Salah satu tujuan digelarnya festival adalah mendorong pemerintah untuk membuatkan ‘Camping Ground’ atau bumi perkemahan di kawasan Batur Kintamani.

Ketua Panitia Nusantara Festival, Ngurah Paramartha menjelaskan bahwa Matahari merupakan sumber energi kehidupan. Matahari didivisikan sebagai Surya, sang Mahacahaya Tertinggi, sekaligus Kala, sang Waktu Abadi yang melingkupi seisi ruang Semesta Raya. “Dalam tradisi Nusantara, Matahari sebagai Mahacahaya Tertinggi juga dipahami sebagai daya energi maskulinitas, sedangkan Rembulan (Candra) sebagai representasi daya energi feminitas. Jejak kesadaran Peradaban Matahari ini berpengaruh sedemikian luas dan mendasar dalam banyak tradisi dan peradaban bangsa-bangsa kuno di dunia,” jelas Ngurah Paramartha di Kuta

Festival ini dirancang berkelanjutan setiap tahun dengan fase pertama mencakup kurun waktu 7 tahun ke depan. Diawali tahun 2015 (Merayakan Peradaban Matahari), 2016 (Kearifan Peradaban Rembulan, Mahadaya Cinta Kasih Ibu), 2017 (Kearifan Peradaban Angkasa Raya

Spiritualitas dan Kemuliaan Manusia), 2018 (Kearifan Peradaban Angin Mahaswara, The Power of Sound), 2019 (Kearifan Peradaban Air Keberlimpahan Bahari Khatulistiwa), 2020 (Kearifan Peradaban Tanah, Kekayaan Pertiwi Khatulistiwa), 2021 (Kearifan Peradaban Batiniah Kesadaran Baru Nusantara Raya).

“Festival ini sebagai wahana forum pertemuan bagi para penulis, pekerja kreatif serta aktivis budaya dan sejarah. Nusantara Festival diharapkan dapat memberi dampak positif yang holistik secara ekologis, sosial, ekonomi, bahkan juga pemekaran kesadaran spiritual,” jelasnya. 

Diterangkan Ngurah Paramartha, kegiatan serupa telah berhasil dilaksanakan sejak tahun 2002 sampai tahun 2006, dengan tema utama Art &Humanity  yang mengusung Pluralisme, di Desa Kubutambahan, Singaraja, Bali. Kegiatan ini dihadiri peserta dan undangan dari berbagai unsur pemerintah, tokoh masyarakat, perwakilan desa adat dan kepala desa, LSM, perupa, budayawan, akademisi, pelajar SD dan SLTP dari daerah sekitar kegiatan, termasuk guru dan kepala sekolahnya, serta peliputan luas oleh media cetak dan elektronik: televisi, radio, koran, dan majalah. Bersamaan dengan momentum Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-70, tanggal 17 Agustus 2015 ini, kegiatan ini ditingkatkan dan diperluas menjadi Nusantara Festival.

Ada tujuh program acara yang dirangkum dalam festival ini yakni Hening (meditasi), Asih (zona keragaman hayati), Asah (zona keagaman manusia dan solidaritas sosial), Harmoni, Kemah Nusantara, Dialog Budaya dan Olahraga. Yang menarik adalah pada detik-detik peringatan HUT RI yang ke 70 tanggal 17 Agustus nanti dilakukan pengibaran Sang Saka Merah Putih di Puncak Gunung Batur dengan melibatkan peserta sekitar 3.000 orang. “Juga akan ada 150 orang seniman Batur yang memainkan Balaganjur pada ketinggian 1717 dpl,” jelasnya.

Presiden Jokowi diharapkan bisa hadir dalam festival yang dibuka secara resmi pada Minggu (9/8) nanti oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika. “Teman di Jakarta sudah menjadwalkan audensi dengan Sekneg, mudah-mudahan beliau bisa hadir. Seandainya Jokowi bisa hadir, jadwalnya jam 6 sore. Dengan hadirnya pemerintah, kami harapkan bisa terdrong untuk membuatkan camping ground disini dengan tidak mengubah struktur lahan,” ungkapnya. Masyarakat luas bisa hadir menyaksikan aneka pameran kuliner, kerajinan, hingga pertunjukkan musik, tari dan aneka seni budaya nusantara di festival ini secara gratis. Hanya saja khusus untuk performing musik, masyarakat yang datang dikenakan retribusi sebesar Rp 100 ribu.


Sumber: Redaksi

Like & Share berita ini

loading...

Bagikan pendapat Anda pada artikel ini.


Gunakan kode HTML berikut untuk format text: <a><br><strong><b><em><i><blockquote><code><ul><ol><li><del>



CAPTCHA Image
Reload Image